Jumat, 24 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Viral

Dini Hari, Para Gadis ABG Ini Malah Berkelahi Rebutan Cowok, Kocar-Kacir Saat polisi Datang

"Lalu, Tim Presisi berhenti dan mencoba menghentikan pengeroyokan yang korbannya perempuan," sambung Budhi

Editor: muslimah
Tribunnews/Abdi Ryanda Shakti
Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Budhi Herdi Susianto (tengah), Wakapolres Metro Jakarta Selatan AKBP Harun (kiri), Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Ridwan Soplanit (kanan) menggelar konferensi pers terkait kasus pengeroyokan berujung penabrakan polisi, di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Jumat (10/6/2022). 

Sebab, mereka hendak melakukan pemeriksaan atas kejadian pengeroyokan tersebut.

Bripka HY dengan sepeda motornya coba menghalau mobil itu. Namun, justru mobil tersebut menabraknya hingga terseret dan tersungkur.

"Jadi, anggota yang tertabrak itu terseret sejauh 5 meter," kata Budhi.

Karena aksi para ABG itu telah membahayakan petugas, anggota tim presisi melepaskan tiga kali tembakan peringatan peluru karet ke udara dan ke arah mobil pelaku.

"Dan disuruh berhenti nggak mau juga. Akhirnya diberikan tindakan peringatan, tapi bukannya berhenti malah nabrak anggota kita," tuturnya.

"Tembakan kedua diarahkan ke kap mobil, tapi tetap tidak berhenti. Akhirnya, diarahkan tembakan ketiga ke kaca dan baru berhenti," lanjut dia.

Laju mobil pelaku terhenti setelah menabrak trotoar usai tembakan ketiga.

Selanjutnya, AMZ selaku penabrak Bripka HY dan empat ABG yang melakukan pengeroyokan DK ditangkap dan dibawa ke Mapolres Metro Jakarta Selatan.

Bripka HY Alami Retak Tulang

Motor patroli yang digunakan Bripka HY usai ditabrak (Warta Kota/Ramadan LQ)
Budhi menuturkan, Bripka HY mengalami retak tulang hingga harus dipasang pen usai ditabrak mobil pelaku.   

"Rumah Sakit Fatmawati menyebutkan bahwa korban ini mengalami retak tulang dan ini harus menjalani operasi atau tindakan dan saran dari dokter agar dipasang pen," ujarnya.

Kata Budhi, beruntung anggotanya itu tidak mengalami geger otak.

Saat lakukan patroli, anggota Tim Presisi dilengkapi peralatan lengkap seperti misalnya rompi hingga helm standar.

"Jadi masih bersyukur anggota kami saat itu menghunakan body fas, dan helm yang standar memang diperuntukan untuk tim presisi sehingga diperuntukan akibat dari benturan," ujarnya.

"Setelah kita lakukan sceaning semuanya ya alhamdulillah anggota kami tidak sampe mengalami geger otak. Kalau dilihat dari benturan atau hantamannya, apabila anggota kami tidak menggunakan body fas atau helm yang khusus presisi tentunya akan mengakibatkan hasil yang fatal," sambung dia.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved