PPDB

Cerita Orangtua Siswa Gagal Masuk PPDB SMAN 1 Semarang, Tidak Paham Sistem Verifikasi Berkas

Cerita orangtua siswa calon peserta didik baru yang gagal diterima PPDB di SMAN 1 Semarang karena

Penulis: amanda rizqyana | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Amanda
Joko Priyanto menemani putrinya Adeline datang ke Sekolah Menengah (SMA) Negeri 1 Semarang pada Kamis (30/6/2022) siang menemui Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Joko Priyanto menemani putrinya Adeline datang ke SMAN 1 Semarang pada Kamis (30/6/2022) siang.

Ia menyerahkan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan sebagai tambahan dokumen untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Warga Kelurahan Bugangan Semarang Timur Kota Semarang tersebut sangat ingin bisa diterima sebagai siswa SMAN 1 Semarang.

Baca juga: Cek PPDB Jateng di Temanggung, Ganjar: Semua Lancar dan Problem Cepat Ditanggulangi 

Joko Priyanto menemani putrinya Adeline datang ke Sekolah Menengah (SMA) Negeri 1 Semarang pada Kamis (30/6/2022) siang menemui Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Joko Priyanto menemani putrinya Adeline datang ke Sekolah Menengah (SMA) Negeri 1 Semarang pada Kamis (30/6/2022) siang menemui Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). (Tribun Jateng/ Amanda)

Joko bahkan secara lugas meminta tolong untuk dibantu oleh petugas PPDB yang ada di SMAN 1 Semarang.

Namun ketika melihat peringkat yang terus menurun, bahkan namanya menghilang dari siswa jalur zonasi maupun prestasi, Adeline menjadi risau.

Sebagai orang tua, Joko menemani putrinya untuk menyampaikan tambahan dokumen surat keterangan tidak mampu dari kelurahan untuk menambah poin PPDB putrinya.

"Ternyata sudah terlambat, tidak bisa masuk lagi untuk berkas yang dibawa tadi," ujarnya.

Sebagai orang tua, Joko mengaku sempat bingung dengan perbedaan istilah antara verifikasi berkas dan pendaftaran karena baginya keduanya tak berbeda.

Joko pun mengaku prosedur tersebut cukup merepotkannya sebagai orang tua yang tidak cakap dengan teknologi dan istilah.

Ia memang meminta putrinya memilih sekolah di sekolah negeri dengan pertimbangan biaya yang lebih murah dibanding sekolah swasta.

"Anak saya nilainya bagus, tidak terlalu jelek, jarak tidak terlalu jauh, dan anak orang tidak mampu juga seharusnya bisa masuk ke sini," ucapnya.

Ia berharap pada kesempatan selanjutnya, kuota untuk siswa tidak mampu dan berprestasi bisa ditingkatkan sehingga tidak tergeser dengan siswa lainnya.

Sementara itu Adeline meski sempat sangat ingin masuk SMAN 1 Semarang, Joko mengaku akhirnya pasrah dengan nilai yang dimiliki putrinya.

Setelah menyampaikan aduan pada petugas PPDB di SMAN 1 Semarang dan mendapat arahan untuk putrinya mendaftar di SMK.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved