Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Wawancara Khusus

Kisah Sukses Pengusaha Ayam Bakar Wong Solo, Dulu hanya Masak 3 Ekor dan Kini Punya 270 Cabang

Mulai jualan kecil-kecilan 3 ekor ayam, lama-lama menjadi besar usahanya dan kini sudah ada lebih dari 270 store (rumah makan) di Indonesia

Penulis: ahmad mustakim | Editor: rustam aji
Tribun Jateng/Rifqi Gozali
Puspo Wardoyo pemilik usaha kuliner Ayam Bakar Wong Solo. 

Varian menunya apa saja?

Spesial ayam. Layaknya warung makan. Ya ada variatifnya. Ada makan tradisional Indonesia juga. Mulai gado-gado, sayur asem, tumis kangkung, dan sebagainya. Ikan-ikan, seafood. Oriental juga akhirnya ada. Menyesuailan dengan selera masyarakat.

Apa rahasianya hingga orang ketagihan?

Bedanya, saya nggak belajar, itu bedanya. Kalau boleh sombong sedikit. Itu cara masak ayam mulai penyet, bakar itu niru saya.

Bumbunya, sambal bawangnya, jadi masakan se Indonesia hampir mirip semua. Untuk masakan semua harus memliki ciri khasnya masing-masing. Harus ada inovasinya. Semuanya harus top dari ayam, sambal dan lainnya.

Sekarang ada berapa store di Indonesia?

Ada 270 an store lah. Di Arab Saudi ada 3, Malaysia ada 12, Singapura sempat ada tapi tidak lanjut. Di Arab Saudi melayani jemaah haji dan umrah.

Ada kendala apa saja Pak?

Lebih ke fluktuasi bahan baku ya, sering naik turun. Beda dengan Malaysia dan Arab. Ayam di sana dimonopoli oleh pemerintah.

Harga ayam 6 real tetap, 5 ringgit ya tetap segitu. Termasuk mempengaruhi bahan baku lainnya. Keuntungan bisa 10 persen karena fluktuatifnya bahan baku.

Bagaimana solusi jika bahan naik?

Kita harus menghemat. Investasi lebih rendah. Sekarang kita mulai orientasi pengembangan ke pinggiran. Misal di luar pun nggak harus di jalan protokol, mahal.

Menyediakan juga makanan instan?

Maka kemudian kita berpikir membuat makanan instan yang awet. Cari inspirasi ke Cina, Korea dan Jepang. Akhirnya menemukan itu.

Namanya Retot, pemanasan yang panjang, hingga tahan lebih dari dua tahun. Rasanya tetap, Cita Rasa tak berubah. Bisa tahan hingga 2 tahun.

Dan itulah Makanku. Hanya 15 menit tahan hingga dua tahun.

Apa saja produknya?

Produknya kita macam-macam ada sambel, sayur, lauk, bandeng, nasi ayam.

Karena ini teknologi besar maka tidak bisa bersaing dengan rumah makan di lingkungan. Segmen untuk haji umroh.

Untuk backpakeran, muncak, untuk kegiatan sosial. Misal gempa taunami, dan sebagainya. (kim)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved