Berita Viral

Pedagang Kaki Lima di Kudus Keluhkan Elpiji Subsidi Langka, Harga NaikTembus Rp 23 Ribu Per Tabung

Warga masyarakat di Kabupaten Kudus mengeluhkan langkanya elpiji 3 kilogram (Kg) yang juga ikut membuat harga jualnya terkerek naik

Penulis: raka f pujangga | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Raka F Pujangga
Pedagang warung makan Mbak Rijoens, Rian Wijayanti (36), di Jalan PG Rendeng, Mlati Norowito, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Senin (29/8/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Warga masyarakat di Kabupaten Kudus mengeluhkan langkanya elpiji 3 kilogram (Kg) yang juga ikut membuat harga jualnya terkerek naik.

Satu di antaranya pedagang warung makan Mbak Rijoens, Rian Wijayanti (36), menyampaikan, sudah kesulitan mencari elpiji subsidi 3 Kg sejak dua minggu yang lalu.

Bahkan, harganya yang semula Rp 20 ribu sampai Rp 22 ribu per tabungnya menjadi Rp 23 ribu per tabung.

“Naik Rp 1.000 dari biasanya karena cari barangnya susah. Ya sudah nggak apa-apa, yang penting bisa jualan,” kata pedagang kaki lima di Jalan PG Rendeng, Mlati Norowito, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Senin (29/8/2022).

Baca juga: Ferdy Sambo Akan Pakai Baju Tahanan Saat Rekonstruksi Pembunuhan Brigadir J Besok, Bagaimana Putri?

Baca juga: Harga Telur Ayam di Pekalongan Meroket, Pedagang: Daya Beli Masyarakat Turun

Dia juga terpaksa harus menambah stok tabung yang ada di warungnya menjadi lima buah agar ada penjual yang bersedia untuk mengantarkan ke warungnya.

“Ada penjual elpiji yang bersedia mengantar tapi minimal pembeliannya lima tabung,” ujar dia.

Sementara itu, pedagang warung makan lainnya, Subiyanti (42), warga Tumpangkrasak, menceritakan kelangkaan elpiji subsidi tersebut, bahkan membuat harganya meroket.

Sebagai pedagang kecil, tabung gas elpiji merupakan kebutuhan pokok agar bisa tetap berjualan makanan.

“Harganya mahal kemarin pernah beli sampai Rp 25 ribu per tabung tetap saya beli. Tapi sekarang masih Rp 23 ribu,” ujar dia.

Dia berharap, agar elpiji subsidi dapat terjangkau dan mudah diperoleh terutama bagi para pedagang kecil.

Disparitas harga yang terlalu jauh dengan elpiji non subsidi membuatnya tetap bertahan untuk menggunakan tabung elpiji 3 Kg yang menawarkan harga lebih terjangkau.

“Tabung yang pink atau yang biru itu mahal. Selisih harganya jauh, jadi saya beli yang murah,” ujar dia. (raf)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved