Opini

Opini Prof DR Nugroho: Menduga Arah Kebijakan Suku Bunga BI 2023

KEBIJAKAN moneter Bank Indonesia (BI) khususnya kebijakan tentang suku bunga acuan yaitu BI 7 Days Repo Rate (BI7DRR) sampai saat ini masih merupakan

Editor: m nur huda
Tribun Jateng
Opini Ditulis Oleh Prof. DR. Nugroho SBM MSi (Guru Besar Ilmu Ekonomi FEB Undip Semarang) 

Opini Ditulis Oleh Prof. DR. Nugroho SBM MSi (Guru Besar Ilmu Ekonomi FEB Undip Semarang)

TRIBUNJATENG.COM - KEBIJAKAN moneter Bank Indonesia (BI) khususnya kebijakan tentang suku bunga acuan yaitu BI 7 Days Repo Rate (BI7DRR) sampai saat ini masih merupakan kebijakan yang banyak diamati dan dikomentari oleh banyak pihak. Komentator yang dimaksud yaitu pengamat, masyarakat, dan dunia usaha di Indonesia.

Alasannya karena kebijakan suku bunga acuan akan mempengaruhi dunia usaha khususnya sektor riil. Kenaikan BI7DRR misalnya akan direspon oleh kenaikan suku bunga kredit. Kenaikan suku bunga kredit akan menyebabkan kenaikan biaya investasi sehingga investasi akan turun. Turunnya investasi berdampak pada turunnya kesempatan kerja yang pada akhirnya berujung pada PHK dan naiknya angka kemiskinan.

Kebijakan BI terhadap BI7DRR terkait langsung dengan kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) tentang suku bunga acuan mereka yaitu Fed Rate. Kenaikan Fed Rate akan dengan cepat direspon oleh BI dengan menaikkan BI7DRR. Sebab jika tidak, maka pemilik uang akan mengalihkan uangnya ke dolar AS yang suku bunganya lebih menarik.

Hal ini akan menyebabkan dolar AS menguat terhadap rupiah atau rupiah melemah terhadap dolar AS. Melemahnya rupiah akan berdampak negatif bagi Indonesia antara lain akan menaikkan harga barang impor yang pada akhirnya akan menyebabkan inflasi. Inflasi yang tinggi akan berdampak negatif antara lain turunnya daya beli masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah dan tetap.

Dinamika Fed Rate

Selama tahun 2022 The Fed (Bank Sentral AS) sudah menaikkan suku bunganya (Fed Rate) sebanyak 7 kali pada periode Maret 2022 sampai Desember 2022. Secara kumulatif pada periode tersebut Fed Rate sudah naik 425 basis point (bps) atau 4,25 persen yaitu dari sebelumnya 0,25 persen menjadi 4,5 persen.
Bagaimana di tahun 2023 ini? Sebagaimana diketahui kenaikan Fed Rate dipicu oleh tingginya inflasi di AS. Inflasi di AS pada November 2022 adalah 7,1 persen. Namun pada Desember 2022 angka tersebut turun menjadi 6,5 persen. Pada awal 2023 ini inflasi di AS diprediksi akan turun lagi.

Terus menurunnya inflasi di AS tersebut dipicu oleh turunnya harga energi salah satunya turunnya harga bensin di pasar dunia sebesar 13 persen di Desember 2022 yang akan terus berlanjut di tahun 2023.
Menurunnya inflasi di AS tersebut menciptakan 2 (dua) pendapat tentang arah kebijakan The Fed atas suku bunga acuannya (Fed Rate). Skenario atau pendapat pertama mengatakan bahwa di tahun 2023 ini The Fed akan berhenti menaikkan suku bunganya. Kebijakan menaikkan suku bunga sebenarnya diambil oleh The Fed karena kondisi memaksa.

Selama ini fed rate dipertahankan sangat rendah bahkan mendekati nol persen. Alasannya jelas bahwa suku bunga tinggi punya dampak negatif bagi AS, antara lain dollar AS menjadi terlalu kuat sehingga daya saing produk AS di pasar dunia dan ekspornya turun. Dampak negatif yang lain adalah biaya investasi yaitu bunga kredit menjadi lebih mahal sehingga investasi di AS akan turun.

Namun ada opini atau skenario yang kedua yang menyatakan bahwa fed rate tetap akan dinaikkan oleh The Fed di tahun 2023 ini meski mungkin kenaikannya tidak setinggi dan sesering di tahun 2022 lalu.

Alasannya adalah The Fed akan terus berusaha menurunkan tingkat inflasi di AS sampai pada tingkat 2 persen dan baru akan menurunkan fed rate kalu benar-benar yakin bahwa inflasi akan terjaga di tingkat 2 persen atau lebih turun lagi karena ini menyangkut kredibilitas The Fed.

Tampaknya pendapat atau skenario yang kedua inilah yang lebih masuk akal. Hal tersebut diperkuat oleh risalah rapat FOMC (Federal Open Market Committee) atau semacam dewan gubernur The Fed Desember 2022 yang dirilis Rabu 4 Januari 2023 lalu. Yang menyebutkan antara lain tidak ada seorangpun anggota dewan gubernur The Fed yang menghendaki penurunan fed rate di tahun 2023.

Gubernur BI Perry Warjiyo juga menyatakan bahwa ada kemungkinan di tahun 2023 ini fed rate akan naik sampai tingkat tertinggi di 5 persen dan bertahan agak lama di tingkat itu. Namun BI juga menyatakan bahwa jika perang antara Ukraina dan Rusia tidak kunjung reda maka bisa saja fed rate naik hingga 5,25 persen bahkan 6 persen.

Bagaimana BI7DRR?

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved