Minggu, 17 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Citizen Journalism

Aneka Kuliner Khas Tegal yang Menggugah Selera

Sejak berangkat kami sudah berbincang rencana menikmati beberapa pangan lokal yang sudah melegenda di Tegal.

Tayang:
Editor: rustam aji
DOK. PENULIS
PIA - Salah satu jajanan khas Tegal, pia. 

Kamipun makan durian bersama sopir-sopir PDM. Mas Lukman tahu diri mengambil satu "pongge" (sebutir) dan itupun untuk difoto buat story WA.

Kami berdua patungan untuk membayar 17 butir durian yang sudah dimakan ramai-ramai. Dan kalau dihitung ternyata saya habis 1 butir durian utuh.

Harga durian Jatinegara yang dijual Zaenal relatif murah. Sebutir Rp 25-50 ribu tergantung ukuran kecil besar dan kualitas rasanya.

Sore seusai Muspimwil mau pulang, pak Kaharudin Sekretaris PDM Kota Tegal menghampiri kami. "Ada titipan durian buat oleh-oleh dari Ketua KPU Kota Tegal" ujarnya sambil menyerahkan 4 durian lokal yang belum masak.

"Jazakumullah pak Kahar, maturnuwun" jawab kami sambil memasukkan ke mobil.

Sedekah durian kami ternyata langsung dibalas dengan sedekah durian dari salah satu anggota Fordem Berkemajuan Jateng. Durian adalah plasma nutfah Indonesia. Cara terbaik menikmati durian (asal belum pecah) dengan dieramkan 2-3 hari setelah pemetikan.

Ikan Bakar dan Pia

Kami tidak langsung pulang tapi mampir dulu dan bertemu dengan Ersal, Bendahara DPD KNPI Jateng yang masih menjabat Ketua DPD KNPI Kabupaten Tegal.

Beliau baru selesai mengisi kegiatan kepemudaan di aula DPRD Kota Tegal. Ngobrol kita lanjutkan di Kedai Ikan Bakar 57 Tegal. Adhim, mahasiswa S2 IT Udinus alumnus SMKMuh1 Weleri ikut membersamai kami. Dia salah satu programmer yang terlibat pembuatan Platform E-Vote dan admin e-voting Muspimwil.

Saya pesan ikan Pihi bakar. Ikan Pihi dan ikan Jeruk adalah 2 jenis ikan kesukaan saya, dan banyak ditangkap nelayan TPI Pekalongan dan Tegal.

Kedai ikan bakar 57 letaknya berseberangan dengan home base kami bersama pakar ahli kelautan dan perikanan Undip. Tepatnya sewaktu kami menjadi konsultan Community Development Co-fish Project ADB (Asian Development Bank) tahun 2000-2003.

Sebuah proyek strategis nasional Kementrian Perikanan dan Kelautan RI yang didanai ADB, untuk membangun beberapa infra struktur dan supra struktur kelautan.

Diantaranya membangun TPI yang representatif di kota Tegal, menangani resolusi konflik nelayan jaring arad (pukat harimau), pembuatan artificial reef (terumbu karang buatan), penataan fish sanctuary (hutan mangrove), pembuatan film bawah air dan memperbaharui peta bawah laut untuk jalur kapal selam.

Hingga malam menjelang kami berada di Kedai 57. Diselingi sholat maghrib dan Isya' jamak qashar. Kami membubarkan diri pada jam 20.00 malam. Saya antar mas Lukman ke Stasiun Tegal untuk kembali ke Semarang dengan KA Kaligung.

Sebelum pulang ke Weleri kami sempatkan mampir di toko Pia Argasari. Salah satu makanan khas kota tegal yang mungkin usianya sudah hampir setengah abad.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved