Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Perang Rusia Ukraina

Untuk Akhiri Perang Rusia-Ukraina, Jerman Minta China Gunakan Pengaruhnya

Jerman pada Jumat (26/5/2023) meminta China menggunakan pengaruhnya terhadap Rusia untuk membantu mengakhiri perang di Ukraina.

AFP/ARIS MESSINIS
Militer Ukraina meluncurkan roket permukaan ke permukaan (MLRS) ke lokasi yang menjadi basis militer Rusia di wilayah Donbas, 7 Juni 2022. 

TRIBUNJATENG.COM, BERLIN -- Jerman pada Jumat (26/5/2023) meminta China menggunakan pengaruhnya terhadap Rusia untuk membantu mengakhiri perang di Ukraina.

Permintaan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Jerman Andrea Michaelis saat dikunjungi utusan khusus China Li Hui.

Li yang berusaha mengenalkan negosiasi China untuk menyelesaikan konflik, mengunjungi Jerman pada Rabu (24/5) sebagai bagian dari tur ke Eropa setelah perjalanan dua hari ke Kyiv.

Dia diperkirakan melawat ke Moskwa pada Jumat (26/5). Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan, Li telah mengadakan diskusi intensif dengan Michaelis di Berlin.

"Pihak Jerman mengimbau China untuk memengaruhi Rusia agar segera menghentikan perang agresi dan sepenuhnya menarik diri dari Ukraina," katanya, dikutip dari kantor berita AFP.

Jerman juga mengatakan kepada Li, pihaknya ingin China menahan diri tidak mendukung Rusia dengan senjata dan membantu mencegah eskalasi konflik nuklir.

"Kedua pihak sepakat melanjutkan perbincangan profesional mereka dalam perang agresi Rusia melawan Ukraina."

Rusia dan China memiliki hubungan dekat. Presiden Xi Jinping mengunjungi Moskwa pada Maret 2023 dan mengatakan bahwa hubungan kedua negara memasuki era baru.

Adapun China mengeklaim sebagai pihak netral dalam perang Ukraina, tetapi dikritik karena menolak mengecam invasi tersebut. Para politisi Uni Eropa meragukan daftar proposal yang diterbitkan oleh China.

Menurut Beijing, dokumen itu ditujukan untuk membantu mengamankan perdamaian di Ukraina.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Jumat (26/5) mengatakan kepada utusan khusus China Li Hui, ada hambatan serius untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan Ukraina.

"Menteri Luar Negeri Rusia menegaskan kembali komitmen Moskwa untuk penyelesaian konflik politik-diplomatik, menyebutkan ada hambatan serius untuk dimulainya kembali pembicaraan damai yang dibuat oleh pihak Ukraina dan para mentor Baratnya," kata Kementerian Luar Negeri Rusia, dikutip dari kantor berita AFP.

Selama pertemuan dengan Li, yang merupakan Duta Besar China di Rusia pada 2009-2019, Lavrov juga memuji posisi seimbang Beijing di Ukraina. Meski China mengaku sebagai pihak netral dalam konflik Ukraina, mereka dikritik karena menolak mengecam invasi Moskwa.

"Kedua pihak menyatakan kesiapan untuk lebih memperkuat kerja sama kebijakan luar negeri Rusia-China, yang selalu ditujukan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan dan planet ini secara keseluruhan," lanjut Kemlu Rusia.

Secara terpisah, Li juga bertemu dengan dua deputi Lavrov yaitu Mikhail Galuzin dan Andrei Rudenko.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved