Berita Semarang
Kisah Haru Para Penyintas Kanker di Semarang Bertahan dari Penyakit Mematikan
Intania Anggraeni (37) tak menyangka bisa selamat dari penyakit kanker ganas. Ia divonis dokter tak bisa bertahan hidup lebih lama.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Intania Anggraeni (37) tak menyangka bisa selamat dari penyakit kanker ganas. Ia divonis dokter tak bisa bertahan hidup lebih lama.
Kanker serviks yang ia derita sejak 2019, telah menjalar ke berbagai bagian tubuh.
Perjuangan Intan untuk sembuh terbilang cukup sulit. Jalan satu-satunya yang diberikan dokter adalah operasi pengangkatan rahim. Konsekuensinya, Intan bakal mengalami kelumpuhan.
Cahaya harapan Intan semakin pudar, tatkala keluarga besar termasuk suami tak mendukung keputusan Intan menjalani operasi. Intan benar-benar berada di titik terendah.
Namun, sang anak memiliki pendirian lain. Ia mendukung operasi pengangkatan rahim sang Ibu.
Mendegar jawaban itu, sekujur tubuh Intan merinding. Matanya berkaca-kaca.
"Syoknya ya pas itu suruh tanda tangan operasi pengangkatan. Keluarga sudah pasrah, katanya dokter kan bilang umurmu nggak lama,"
"Hanya anak saya yang setuju. Ya udah mamah nggak papa yang penting kan mamah sehat kankernya hilang walaupun mamah lumpuh nggak papa. Saya mau jaga mamah. Saya merinding denger itu," kata Intan berbincang kepada Tribun Jateng di sela acara Gathering Penyintas dan Survivor Kanker bersama Komunitas Kanker Suluh Hati Semarang di Atrium SIM SQUARE SMC RS Telogorejo, Sabtu (16/12/2023).
Intan bercerita, kanker serviks yang ia alami layaknya fenomena gunung es. Saat pertama divonis mengidap kanker di tahun 2019 belum begitu parah. Namun, kankernya mengganas di tahun 2023.
"Kena tahun 2019 masih stadium 1. Terus tahun 2020-2022 cek sudah aman. 2023 muncul langsung stadium IV, seketika langsung kaget," ujarnya.
Keajaiban muncul setelah proses operasi pengangkatan rahim. Intan yang awalnya diprediksi dokter mengalami kelumpuhan, justru bisa kembali normal.
Intan pun tak henti-hentinya meluapkan rasa syukurnya. Baginya, ini adalah keajaiban hidup yang tak bisa dilupakan.
"Harapan hidup sangat tipis. Sudah diobati berbagai cara. Kemoterapi sudah. Nah sebelum operasi saya sudah dikasih tahu bahwa nanti bisa lumpuh. Ternyata ada keajaiban setelah operasi, tangan dan kaki saya bisa digerakkan dan masih bisa jalan," papar Intan.
Keajaiban lain dialami penyintas kanker, Shinta Rosaline (47). Ia menderita kanker payudara sejak tahun 2019, dan sekarang ia masih harus teratur minum obat yang diberikan dokter.
Di usianya yang tak lagi muda, ia terus berjuang melawan penyakit mematikan ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Intania-Anggraeni.jpg)