Berita Regional
Apa Itu Carok? Duel Maut Hasil Adu Domba Penjajah Belanda yang Masih Dilakuk
Istilah carok madura jadi bahan perbincangan setelah kabar tewasnya 4 orang akibat aksi tersebut.
TRIBUNJATENG.COM - Istilah carok madura jadi bahan perbincangan setelah kabar tewasnya 4 orang akibat aksi tersebut.
Lalu apa sebenarnya Carok? yang menewaskan 4 orang di Bumianyar, Tanjung Bumi, Bangkalan, Jawa Timur.
Carok adalah pertarungan menggunakan celurit sebagai cara orang Madura membela harga diri atau kehormatan.
Baca juga: Detik-detik Carok Tewaskan 4 Orang di Bangkalan Madura, Pemicunya Tak Terima Ditegur Saat Naik Motor
Baca juga: 4 Orang Tewas Carok di Bangkalan Madura, 2 di Antaranya Kakak Adik
Banyak yang beranggapan carok termasuk budaya Madura yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.
Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah.
Namun, carok sebenarnya baru muncul pada sekitar abad ke-18 dan terjadi akibat adu domba bangsa Belanda terhadap orang Madura.
Sekalipun carok hampir dapat dipastikan menimbulkan korban jiwa, duel celurit ini sudah menjadi hal lazim bagi orang Madura.
Kendati demikian, tidak semua adu senjata menggunakan celurit dapat disebut sebagai carok.
Apa itu carok? Menurut Huub de Jonge, carok adalah suatu cara untuk menolong diri sendiri yang diterima secara sosial, dengan cara kekerasan dan pembunuhan.
Carok merupakan tradisi kekerasan yang sering kali dijadikan jalan keluar oleh orang Madura yang merasa direndahkan oleh orang lain.
Dari penelitian yang pernah dilakukan, penyebab yang paling sering adalah gangguan terhadap istri, salah paham, masalah tanah atau harta warisan, utang-piutang, dan masalah lain.
Semua penyebabnya mengacu pada akar yang sama, yakni perasaan akan pelecehan harga diri.
Pasalnya, dalam kasus-kasus mengenai sentimen semacam itu, tidak seorang pun mengharapkan hukuman adil atau keputusan cepat dari pihak berwenang.
Oleh karenanya, carok digunakan sebagai jalan orang Madura membela kepentingannya, karena harga diri dan martabat taruhannya.
Hal itu senada dengan pepatah orang Madura, yang berbunyi, "pote mata ban pote tolang, ango' poteya tolang" (lebih baik putih tulang daripada putih mata), yang artinya lebih baik mati daripada hidup menanggung malu.
| Jumat Keramat! Bupati Tulungagung Gatut Sunu Terjaring OTT KPK |
|
|---|
| Polisi Selidiki Bubuk Hitam Diduga Penyebab Pelajar Tewas Karena Senapan Rakitan Meledak saat Ujian |
|
|---|
| Gempa M 3,7 Guncang Flores Timur dan Lembata Mirip Truk yang Sedang Melintas |
|
|---|
| Kisah Rifai Diusir dari Rumahnya oleh Pria yang Numpang, Dikejar Pakai Parang, Barang Habis Dijual |
|
|---|
| Kisah Pengabdian 18 Tahun Guru SD hingga Berstatus PPPK, Kini Dipecat karena Dituduh Selingkuh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-carok_20161223_232219.jpg)