Berita Internasional
Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kalinya Serukan Gencatan Senjata Gaza
Dewan Keamanan PBB untuk kali pertama pada Senin (25/3/2024) menuntut gencatan senjata segera di Gaza, setelah lebih dari lima bulan perang.
TRIBUNJATENG.COM, NEW YORK - Dewan Keamanan PBB untuk kali pertama pada Senin (25/3/2024) menuntut gencatan senjata segera di Gaza, setelah lebih dari lima bulan perang.
Itu terjadi setelah Amerika Serikat, sekutu Israel yang memveto rancangan sebelumnya, memilih abstain.
Mendapat tepuk tangan meriah di Dewan Keamanan yang biasanya tenang, ke-14 anggota lainnya memberikan suara mendukung resolusi yang "menuntut gencatan senjata segera" untuk bulan suci Ramadan yang sedang berlangsung.
Baca juga: Anak-Anak Ketakutan saat Hujan Deras Guyur Gaza, Tak Bisa Bedakan Suara Guntur dan Bom
Resolusi tersebut menyerukan agar gencatan senjata mengarah pada "gencatan senjata yang langgeng dan berkelanjutan" dan menuntut agar Hamas dan kelompok lainnya membebaskan para sandera yang diculik dalam serangan 7 Oktober.
"Pertumpahan darah telah berlangsung terlalu lama," kata Amar Bendjama, Utusan Aljazair, anggota Dewan Keamanan blok Arab saat ini.
Aljazair diketahui merupakan sponsor resolusi tersebut bersama dengan berbagai kelompok yang mencakup Slovenia, Swiss, Jepang, dan Korea Selatan.
"Akhirnya, Dewan Keamanan memikul tanggung jawabnya," katanya setelah pemungutan suara pada sidang di Markas Besar PBB di New York, AS, sebagaimana dikutip dari AFP.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menuntut agar resolusi ini diimplementasikan.
"Kegagalan tidak dapat dimaafkan," tulis Guterres di X.
Utusan Palestina Riyad Mansour menahan air mata ketika ia mengatakan bahwa resolusi tersebut harus menjadi "titik balik" untuk mengakhiri perang.
"Permintaan maaf kepada mereka yang telah gagal diselamatkan oleh dunia, kepada mereka yang seharusnya dapat diselamatkan namun tidak," katanya.
Tanggapan Israel dan Hamas
Amerika Serikat telah berulang kali memblokir resolusi Dewan Keamanan PBB yang memberikan tekanan kepada Israel, namun semakin menunjukkan rasa frustrasi terhadap sekutunya itu ketika PBB memperingatkan akan terjadinya kelaparan di Gaza.
Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu pekan lalu bersumpah untuk menentang himbauan Amerika Serikat dan memperluas kampanye militer Israel ke Rafah, kota Gaza selatan tempat sekitar 1,5 juta warga Palestina berlindung.
Beberapa saat setelah Amerika Serikat menolak memveto resolusi terbaru, Netanyahu mengumumkan ia tidak akan lagi mengirim delegasi ke Washington yang diminta oleh Presiden Joe Biden untuk membahas Rafah.
| Kapal Tanker Arab Diserang Bajak Laut Somalia, Kapten dan ABK Indonesia Disandera Diancam Dieksekusi |
|
|---|
| Mengenal Anak Indigo: Sejarah dan Asal-usul yang Sudah Ada Sejak Tahun 1970-an |
|
|---|
| Iran Umumkan Selat Hormuz Terbuka untuk Kapal Komersial, Ini Reaksi Trump, Harga Minyak Turun |
|
|---|
| Ribuan Lebah Serbu Kota-kota di Israel, Apa yang Terjadi? Ini Analisa Pakar |
|
|---|
| Trump Klaim "Kemenangan", Sinyal Militer AS Bakal Cabut dari Iran? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Pesawat-kargo-militer-Amerika-Serikat-tipe-Hercules-C-130-Super-Hercules-m.jpg)