Kuliner Kudus
Triyanto, Sang Peracik Sirup Penyubur Kandungan dari Lereng Muria
Upaya Triyanto dalam mengembangkan produk turunan buah parijoto ke dalam bentuk sirup telah membuahkan hasil.
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Upaya Triyanto dalam mengembangkan produk turunan buah parijoto ke dalam bentuk sirup telah membuahkan hasil.
Selain dia sukses sebagai perintis sekaligus pelaku usaha sirup parijoto, Triyanto juga telah memberdayakan warga sekitar untuk dipekerjakan.
Parijoto merupakan buah yang mudah dijumpai di lereng Gunung Muria termasuk di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Buah ini berbentuk butiran kecil berwarna ungu dan menggerombol pada tangkai.
Buah yang memiliki rasa asam itu dipercaya bisa menyuburkan kandungan. Selain itu bagi ibu hamil yang mengonsumsi buah parijoto bayi yang dikandungnya akan terlahir tampan atau cantik.
Mitos yang terbangun sejak dulu akhirnya membuat sejumlah orang yang datang ke Desa Colo selain untuk berziarah ke Makam Sunan Muria juga untuk berburu buah yang memiliki nama latin medinilla speciosa blume.
Bahkan sebagian lagi beranggapan kalau parijoto merupakan anugerah Tuhan yang sengaja diturunkan langsung ke lereng Gunung Muria karena di sana ada sosok salah seorang walisongo penyebar agama Islam yaitu Sunan Muria yang dikenal memiliki keramat. Maka tidak heran kalau orang ikhtiar untuk mendapatkan kehamilan datang ke Desa Colo untuk berziarah ke pusara Sunan Muria sepaket dengan berburu buah parijoto.
Mitos yang terkandung dalam parijoto membuat buah satu ini mengandung nilai ekonomi. Hampir setiap peziarah yang datang ke Makam Sunan Muria memburu buah ini. Maka tidak heran di sepanjang jalan menuju makam Sunan Muria di Desa Colo sangat mudah dijumpai para penjaja parijoto.
Sayangnya parijoto merupakan buah yang hanya mudah dijumpai saat musim hujan. Saat musim kemarau buah ini sulit dijumpai, oleh karenanya harganya dipastikan melonjak saat kemarau. Katakan kalau musim hujan harga parijoto per tangkai Rp 10 ribu saat musim kemarau bisa tembus Rp 50 ribu per tangkai.
“Sebab saat kemarau penyusutan buahnya bisa mencapai 80 persen, makanya buahnya berkurang drastis,” kata Triyanto kepada Tribunjateng.com saat ditemui di kediamamnya di Desa Colo, Kamis (4/4/2024).
Melihat kenyataan itu dalam benak Triyanto terbersit untuk membuat produk turunan dari buah parijoto pada 2015. Sebab saat musim hujan selain buah ini mudah dijumpai dan murah, bahkan juga tidak laku karena saking banyaknya stok. Oleh karena itu banyaknya stok itu dimanfaatkan melalui produk turunan parijoto berupa sirup.
Inisiatif untuk mengolah parijoto menjadi sirup mulai muncul dari benak Triyanto saat dia melihat warga Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mengolah buah kawis menjadi sirup. Kawis sendiri merupakan salah satu buah yang sangat mudah dijumpai di Rembang. Triyanto menganalogikan kalau kawis buah khas Rembang, maka parijoto merupakan buah khas Desa Colo lereng di Gunung Muria, artinya sama-sama bisa diolah menjadi sirup.
Mula-mula mengolah parijoto menjadi sirup adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat Desa Colo. Saat itu Triyanto yang sudah aktif dalam kepengurusan desa wisata berharap ada nilai lebih dari buah parijoto dari sekadar dijual mentah.
Namun tawaran dari Triyanto tidak mendapatkan respons positif, sebab sebagian besar beranggapan hanya dengan menjual buah parijoto sudah bisa dapat uang tanpa repot-repot mengolahnya.
Penolakan itulah akhirnya membuat ayah tiga anak ini tidak patah semangat. Dia bersama istri berusaha untuk mengolah parijoto menjadi sirup.
Sejak 2015 sampai 2017 merupakan jeda waktu yang digunakan Triyanto untuk melakukan uji coba membuat sirup parijoto. Setelah beberapa kali uji coba akhirnya Triyanto memutuskan untuk membuat produksi turunan parijoto berupa sirup.
“Saya masih ingat saya mulai membuat sirup parijoto pada 15 Juli 2017,” kata Triyanto.
Awal mula memulai usaha produksi sirup parijoto Triyanto memiliki tabungan sebesar Rp 1.500.000. Uang tabungan itu diambil Rp 1.200.000 untuk modal awal usaha yakni membuat stiker dan membeli botol untuk kemasan sirup.
Suntikan Modal KUR BRI
Uletnya Triyanto dalam memasarkan sirup parijoto mendapat respons positif atas produk buatannya. Alhasil dia perlu melakukan pengembangan yang sarat akan tambahan modal. Dalam hal ini dia mendapat kucuran modal dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dia mendapat pinjaman modal melalui skema kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp 30 juta.
“Awal modal dari BRI untuk pengembangan usaha. Modal dari BRI senilai Rp 30 juta tenornya 3 tahun,” kata lelaki yang akrab dipanggil Ribut.
Modal dari BRI pun berhasil membuat usaha sirup parijoto yang diberi merek Alammu semakin meenggeliat. Bahkan setelahnya ada beberapa produk turunan parijoto lainnya yaitu berupa permen parijoto, keripik parijoto, teh parijoto, bahkan sampai kombucha parijoto.
Untuk sirup parijoto Alammu ini ada beberapa varian kemasan. Mulai dari kemasan 250 mili seharga Rp 45 ribu, sirup kemasan 350 mili harganya Rp 65 ribu, sirup parijoto kemasan 500 mili seharga Rp 84 ribu, dan kemasan 630 mili seharga Rp 230 ribu.
Sedangkan untuk produk turunan lainnya berupa permen parijoto seharga Rp 25 ribu berisi 20 biji permen, keripik parijoto kemasan 100 gram seharga Rp 25 ribu, dan untuk teh tubruk parijoto kemasan 50 gram seharga Rp 110 ribu lalu teh celup seharga Rp 120 ribu berisi 20 buah.
“Untuk kombucha parijoto seharga Rp 150 ribu kemasan 1.000 mili,” katanya.
Dari seluruh produk turunan parijoto yang telah diproduksi oleh Triyanto sirup adalah yang paling banyak diburu. Untuk pemasaran Triyanto memanfaatkan kanal daring. Selain itu dia juga memasarkan secara luring dengan sasaran para peziarah makam Sunan Muria.
“Untuk saat ini pasar sudah terbentuk, mayoritas memang pembelinya dari Pulau Jawa. Sebagian yaitu dari Kalimantan dan Sumatera,” kata Triyanto.
Kini Triyanto sudah bisa dikatakan sukses dengan usaha pengolahan parijoto. Dia telah memiliki sejumlah pelanggan tetap yang setiap bulan bersedia menjualkan produknya. Untuk menunjang produksi yang stabil, Triyanto kini telah merekrut enam warga Desa Colo sebagai pekerja.
“Harapan kami tetap bisa berkembang dan bisa memberi manfaat dan memberdayakan warga Colo,” katanya.
Sementara Pimpinan Cabang BRI Kudus Iman Indrawan mengatakan, hadirnya KUR memang sangat membantu pelaku usaha kecil. Sebagai perbankan selalu siap untuk memfasilitasi pelaku usaha kecil yang butuh modal untuk mengembangkan usaha. Dalam hal ini Triyanto merupakan contoh konkretnya.
“Soalnya kalau pelaku usaha mikro kecil maju, kami juga kena dampak dari itu,” kata Iman.
KUR bisa dikatakan sebagai penyelamat bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Skema pinjaman tersebut bunganya disubsidi oleh pemerintah, makanya pelaku tidak merasa terbebani.
“KUR itu dana masyarakat juga. Dana masyarakat yang ditabung ke bank yang disalurkan dalam bentuk kredit itulah asal dana KUR itu. Yang membiayai bukan BRI bukan pemerintah, tapi masyarakat juga. Tugas BRI hanya menyampaikan KUR juga. Yang jelas tetap menggunakan analisa-analisa ketentuan yang berlaku baik di BRI maupun ketentuan yang dibuat pemerintah,” kata Iman. (*)
Baca juga: Dies Natalis ke-54 UIN Walisongo, Naik Peringkat PTKIN Terbaik se-Indonesia
Baca juga: 3.235 Botol Miras Dimusnahkan Polres Kudus Pakai Alat Berat Menjelang Lebaran
Baca juga: Curhat Petugas Satpol PP Pati, Kerepotan Tertibkan PKL di Zona Merah, Tak Jera Meski Terjaring Razia
Baca juga: Jelang Lebaran, Pengrajin Parcel di Kota Pekalongan Banjir Orderan
| Rebranding Kopi Muria Jadi Kopi Kudus, Kopi Identitas Kota Kretek Mendunia |
|
|---|
| Sensasi Makan Daging Burung Liar di Warung Iwak Manuk Bu Mun Kudus, Harga Sesuai Jenis Burung |
|
|---|
| Kuliner Kudus : Lezatnya Keong Sruput Ibu Puji Hanya Rp 5.000/Porsi, Kuliner Legendaris Murah Meriah |
|
|---|
| Gethuk Nyimut Khas Lereng Muria Cocok Jadi Oleh-oleh Liburan Natal dan Tahun Baru |
|
|---|
| Sate Kambing Pak Dul Kudus, Bisa Jadi Pilihan Menu Makan Siang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Triyanto-sirup-parijoto.jpg)