Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

LDII

Salat Ied Warga LDII di Aichi Nagoya Jepang, Prof Singgih : Pentingnya Dakwah melalui Akhlak Mulia

Warga Jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang berada di Jepang menggelar Salat Idul Fitri 1445 Hijriah di Kota Nagoya, Jepang.

istimewa
Warga Jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang berada di Jepang menggelar Salat Idul Fitri 1445 Hijriah di Kota Nagoya, Jepang. Profesor Singgih Tri Sulistiyono, yang saat ini mengajar di Nagoya, berbagi pengalaman menarik mengenai momen bersejarah tersebut. 

Sebelumnya diberitakan bahwa warga LDII di seluruh Indonesia melaksanakan salat Idul Fitri 1445 Hijriyah pada Rabu (10/4) di berbagai lokasi di Indonesia.

Data yang dihimpun DPP LDII menyebutkan, warga LDII di seluruh Indonesia menggelar salat Ied di ribuan lokasi dari Sabang hingga Merauke atau di 38 provinsi.

“Menyambut Hari Kemenangan ini, warga LDII di seluruh Indonesia melengkapinya dengan salat Ied. Nasehat usai khotbah salat Ied, diisi dengan pesan-pesan toleransi, persatuan dan kesatuan, serta saling menghormati dalam berkeyakinan,” ungkap Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso.

Tema tersebut selalu relevan dengan perjalanan bangsa Indonesia, yang terdiri dari beragam suku, agama, dan ras. Bangsa Indonesia pun di era modern ini juga kian menyadari ikatan kebangsaan yang merajut keberagaman tak selamanya kokoh,

“Sifat pluralisme yang berbeda satu sama lain, berhasil disatukan bangsa Indonesia dengan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI,” tutur KH Chriswanto.

Namun, KH Chriswanto juga mengingatkan ideologi transnasional bisa terus menggerus “4 Pilar Konsensus Bangsa”, apalagi dipertajam dengan isu-isu ketimpangan ekonomi atau pembangunan,

“Maka, pesan kuat Idul Fitri dari DPP LDII adalah toleransi, persatuan dan kesatuan bangsa, serta penghormatan terhadap keyakinan. Dengan tiga hal itu, nasionalisme dapat diperkuat untuk mencapai tujuan pembangunan nasional,” imbuh KH Chriswanto.

Ia berpendapat, dengan menganut demokrasi tiga hal tersebut mendapat ruang dan dukungan baik dari pemerintah maupun rakyat Indonesia. Di dalam demokrasi, pemerintah memastikan rakyat mendapatkan hak-hak asasinya berupa hak hidup, beragama, berkeyakinan dan hidup sejahtera,

“Bahkan pemerintah juga memastikan melindungi hak hidup agama-agama dan berkeyakinan. Dan mayoritas melindungi minoritas, dan minoritas menghormati mayoritas. Itulah indahnya demokrasi,” katanya.

Menurutnya, di alam demokrasi berkeyakinan tidak boleh melalui paksaan. Untuk itu, sekelompok orang tidak boleh menyatakan paling benar lalu menyalahkan pihak lain di ruang publik, yang memicu kegaduhan,

“Termasuk pelarangan bagi kelompok tertentu untuk beribadah. Kecuali dengan jelas, terindikasi ingin mengubah dasar negara Pancasila dengan yang lain, dan tidak memiliki komitmen kebangsaan,” tegas KH Chriswanto. (*)

Baca juga: Pesan Ketua DPW LDII Jateng di Idul Fitri 2024 : Rayakan Idul Fitri dengan Kebersamaan dan Kedamaian

Baca juga: Salat Idul Fitri 2024: Pesan Toleransi dan Persatuan Menggema dari Ribuan Lokasi Salat Ied LDII

Baca juga: Salat Idul Fitri 2024, LDII Purbalingga : Mempererat Silaturahim dan Berbagi Kebahagiaan Bersama

Baca juga: Ketum DPP LDII KH Chriswanto Santoso: Rukyatul Hilal Memperkuat Ukhuwah dan Kebhinnekaan Bangsa

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved