Berita Blora
Kekeringan Parah di 16 Kecamatan di Blora, Warga Andalkan Bantuan Droping Air Bersih
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora mencatat, kekeringan semakin parah dan terjadi di 16 kecamatan
Penulis: M Iqbal Shukri | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, BLORA - Musim kemarau di Blora semakin parah, 16 kecamatan masih kesulitan air bersih.
Warga kurang mampu hanya mengandalkan bantuan air bersih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora mencatat, kekeringan semakin parah dan terjadi di 16 kecamatan.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Blora, Abdul Mukhid menyampaikan, saat ini pihaknya masih berfokus untuk mengurangi dampak musim kemarau.
Sebab, kekeringan tahun ini lebih parah. Tercatat di data, dampak kemarau terjadi di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blora.
"Dari data yang dikumpulkan di setiap kasi trantibmas per kecamatan. Semua melaporkan ada kekeringan, namun tidak semua desa di kecamatan mengalami kesulitan air," katanya, Jumat (25/10/2024).
Berdasarkan data BPBD Blora, terdapat 196 desa yang terdampak kekeringan. Desa-desa itu tersebar di 16 kecamatan.
Mukhid menjelaskan, pihaknya tidak bisa memprediksi secara tepat kapan terjadinya musim hujan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah saja yang bisa memprediksi kapan turunnya hujan dan kekeringan berakhir.
"Jika menggunakan hasil sosialisasi dan pengumuman bahaya kekeringan dan kebakaran hutan oleh Provinsi Jawa Tengah. Musim kemarau diprediksi berakhir di bulan November," terangnya.
Pihaknya menambahkan, saat ini BPBD Blora terus berupaya untuk mengurangi dampak kekeringan dengan melakukan droping air.
Selain itu, pihaknya juga mengajak semua BUMD, BUMN, relawan dan kelompok masyarakat untuk peduli terhadap kekeringan yang ada di Blora.
Salah seorang, warga Desa Jepangrejo, Blora, Supriyono mengaku, daerahnya sudah mengalami kesulitan air.
Ia seringkali menunggu bantuan dari pemerintah dan bantuan dari para relawan.
"Sumur-sumur sudah tidak keluar airnya. Semua warga mengandalkan bantuan, kecuali warga yang punya uang untuk beli satu tangki air bersih," ujarnya.
Ia mengatakan, jika warga yang mempunyai uang itu sering membeli satu tangki air dengan harga sekitar Rp 200 ribu. Kalau warga kurang mampu hanya menunggu bantuan air bersih datang.
"Satu hari itu bisa 10 lebih tangki air keluar masuk desa untuk ngirim air bersih. Sedangkan kalau bantuan air bersih itu sering dikeroyok oleh lebih dari 10 rumah," ucapnya.(Iqs)
| Kecelakaan Pemotor Vario Vs Beat di Desa Pelem Blora, Tiga Orang Dilarikan ke Rumah Sakit |
|
|---|
| Lansia Hilang Dua Hari di Hutan Perhutani Subah Ditemukan Selamat, Sempat Dicari Warga dan Tim BPBD |
|
|---|
| Duduk Perkara Kepala SDN 3 Randulawang Blora Dipolisikan Orang Tua Karena Melerai Siswa Bertengkar |
|
|---|
| Sapi Berbobot 1 Ton dari Japah Blora Mulai Diburu Pembeli Jelang Iduladha |
|
|---|
| Kakek di Blora Ditemukan Tewas di Belakang Rumah, Diduga Akhiri Hidup karena Depresi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ilustrasi-suasana-droping-air-bersih-di-BloraIqbalTribunjateng.jpg)