UIN SAIZU Purwokerto
Isra Mikraj dan Dimensi Kesalehan Sosial
Isra Mikraj adalah peristiwa monumental dalam sejarah Islam yang menyimpan makna mendalam, baik dari segi spiritualitas maupun kehidupan sosial.
Masalah-masalah seperti ketimpangan ekonomi, korupsi, dan eksploitasi adalah bentuk lain dari penyimpangan sosial yang harus dihadapi dengan pendekatan spiritual dan moral.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa perbaikan sosial tidak hanya bergantung pada hukum atau kebijakan, tetapi juga pada kesadaran individu untuk menjalankan nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesalehan Sosial sebagai Fondasi Islam
Kesalehan sosial bukan hanya pelengkap dalam Islam, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajarannya. Banyak ayat dalam Al-Qur’an menekankan bahwa kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari kontribusinya kepada masyarakat.
Misalnya, zakat, sebagai salah satu rukun Islam, tidak hanya bertujuan untuk membersihkan harta, tetapi juga untuk mendistribusikan kesejahteraan agar kesenjangan ekonomi dapat diminimalkan.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa perjalanan spiritual setiap muslim harus diiringi dengan aksi sosial. Nabi Muhammad sendiri menjadi teladan utama dalam hal ini. Ia tidak hanya menunjukkan kedekatan dengan Allah, tetapi juga secara aktif memperjuangkan keadilan sosial.
Dalam konteks ini, shalat yang diwajibkan melalui peristiwa Mi’raj mengandung dimensi sosial yang kuat. Al-Qur’an secara tegas menyatakan (QS Al-‘Ankabut: 45) bahwa shalat berfungsi sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar.
Dengan demikian, ibadah ini tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga sarana untuk membangun masyarakat yang lebih baik.
Relevansi Isra Mi’raj dalam Transformasi Sosial
Isra Mi’raj mengajarkan pentingnya transformasi sosial yang berakar pada nilai-nilai ilahi.
Perjalanan spiritual Nabi memberikan pelajaran bahwa permasalahan sosial harus diselesaikan secara holistik, mencakup dimensi spiritual, moral, dan struktural.
Dalam konteks modern, pesan ini sangat relevan untuk mengatasi tantangan global, seperti ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, dan konflik antar komunitas.
Islam menawarkan prinsip keadilan, solidaritas, dan persaudaraan yang dapat menjadi dasar untuk membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis.
Dalam hal ini, umat Islam tidak hanya berperan sebagai pelaku ritual, tetapi juga sebagai agen perubahan. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan cita-cita sosial Islam, yaitu masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera.
Shalat sebagai Simbol Kesalehan Sosial
| UIN Saizu Matangkan Persiapan Ujian SSE UMPTKIN 2026 melalui Rapat Koordinasi |
|
|---|
| UIN Saizu Terima Kunjungan Outing Class MTs Miftahul Huda Rawalo, Kenalkan Dunia Kampus Sejak Dini |
|
|---|
| UIN Saizu Umumkan Daftar Ulang Mahasiswa Baru Jalur SNBT 2026, Ini Jadwal dan Ketentuannya |
|
|---|
| Angkat Isu Konseling Generasi Z, Mahasiswa BKI UIN Saizu Raih Juara 2 di ICFE 2026 |
|
|---|
| Lolos Seleksi Ketat, Mahasiswi Mazawa UIN Saizu Jadi Campus Ambassador 2026 di MySkill |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Enjen-Zaenal-Muttaqin-Dosen-FEBI-UIN-Saizu-Purwokerto-2.jpg)