Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Tegal

Dulunya Pedagang Sayur, Richanah Kini Eksis sebagai Perajin Batik Tegalan 

Masih lekat dalam ingatan Richanah (58), awal mula dia menggeluti kerajinan batik khas Tegal atau batik tegalan, sekira lima tahun lalu, pada 2020

Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: muslimah
Tribunjateng/Fajar Baharuddin Ahmad
TUNJUKKAN PRODUK - Richanah, perajin batik tegalan menunjukkan produk buatannya di rumahnya, di Kelurahan Debongkulon, Kota Tegal, Minggu (9/3/2025). Dia biasa memproduksi motif modern dan klasik. (Tribun Jateng/ Fajar Bahruddin Achmad) 

TRIBUNJATENG.COM,TEGAL - Masih lekat dalam ingatan Richanah (58), awal mula dia menggeluti kerajinan batik khas Tegal atau batik tegalan, sekira lima tahun lalu, pada 2020. 

Pertemuan pertamanya dengan kerajinan batik saat mengikuti pelatihan di Pendopo Kelurahan Debongkulon, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal. 

Saat itu, pelatihan diisi oleh Sri Rejeki, Ketua Koperasi Usaha Batik Cempaka Mulya Tegal.

Tak disangka, Richanah kini menjadi perajin batik tegalan yang secara rutin menyetorkan karya di Griya Batik Kota Tegal. 

"Saya bisa membatik ini awalnya karena ikut pelatihan di kelurahan, lima tahun lalu. Sebelum itu, saya berdagang sayuran di salah satu pasar di Kabupaten Brebes," kata Richanah kepada tribunjateng.com, Minggu (9/3/2025).

Warga Kelurahan Debongkulon itu, masih tak menyangka akan beralih pekerjaan dari pedagang sayur ke perajin batik. 

Richanah sendiri tidak membutuhkan waktu lama saat belajar membatik. Kurang dari satu bulan dia sudah lancar. 

Menurutnya, hal itu karena dia memiliki perasaan senang dan suka dengan keterampilan. 

"Ada kesenangan tersendiri buat menggambar dan keterampilan. Jadi tidak lama, satu bulan sudah bisa membatik," ungkapnya.

Richanah tiap harinya membatik di rumah. Dalam sebulan, dia bisa menghasilkan dua sampai tiga karya batik tulis.

Dia memiliki kecenderungan membuat motif modern dan klasik, seperti motif daun berguguran dan motif bunga.

Jika ada kunjungan pelajar di Griya Batik Tegal, dia juga ikut membantu pelatihan membatik untuk anak-anak. 

"Alhamdulillah sampai saat ini saya konsisten membatik. Produk buatan saya dipasarkan di Griya Batik, harganya untuk motif modern Rp 250 ribu, sedangkan motif klasik Rp 350 ribu," jelasnya. 

Terbantu KUR

BATIK MODERN- Richanah, menunjukkan batik dengan motif
BATIK MODERN - Richanah, menunjukkan batik dengan motif modern karya buatannya, Minggu (9/3/2025). Motif bunga dan daun berguguran menjadi motif yang sering dia buat. (Tribun Jateng/ Fajar Bahruddin Achmad)

Richanah bercerita, saat memulai usaha, hal penting yang dipikirkannya adalah modal awal. Sebab, membatik membutuhkan kain dan peralatan lainnya.

Saat itu, usaha batiknya sangat terbantu oleh program permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved