Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Senyum Sumringah Atun, PKL Stadion Jatidiri Kembali Jualan Pada Laga PSIS di BRI Liga 1

Beberapa laga PSIS pada ajang BRI Liga 1 sempat digelar tanpa penonton. Hal itu membuat sejumlah PKL dan pedagang asongan sekitar stadion lesu

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: muslimah
Tribunjateng/Eka Yulianti Fajlin
LAYANI PEMBELI - Pedagang kaki lima (PKL) Stadion Jatidiri melayani pembeli jelang pertandingan PSIS Semarang menjamu Persik Kediri pada ajang kompetisi BRI Liga 1, Jumat (11/4/2025) 

Berdasarkan dari hasil riset terbaru yang dilakukan oleh BRI Research Institute yang dirilis pada Juli 2024, penyelenggaraan BRI Liga 1 berpotensi menciptakan perputaran uang yang jauh lebih besar bagi perekonomian Indonesia, yakni mencapai sekitar Rp10,42 triliun. Dari perputaran uang tersebut, dapat tercipta nilai tambah ekonomi (PDB) sebesar Rp5,93 triliun. 

Selain itu, terdapat tambahan pendapatan rumah tangga pekerja sebesar Rp 2,27 triliun, potensi pendapatan pajak tidak langsung bagi pemerintah sebesar Rp 866 miliar, serta penciptaan kesempatan kerja sekitar 45 ribu orang.

“Berdasarkan hasil riset tersebut, kompetisi BRI Liga 1 musim 2024-2025 kami proyeksikan juga akan memberikan dampak positif secara ekonomi bagi stakeholder utamanya untuk menghidupkan mata rantai ekonomi kerakyatan dan meningkatkan pendapatan pelaku UMKM,” jelas Catur.

Fanatisme Penonton Perlu Dibangun 

Sementara itu, Ekonom Universitas Diponegoro Semarang, Prof FX Sugiyanto mengatakan, ajang sepak bola mempunyai modal besar untuk memberi dampak terhadap perputaran ekonomi. Tidak hanya untuk masing-masing klub, namun juga masyarakat sekitar. Hanya saja, dampak yang dirasakan masih pada saat berlangsungnya event. 

"Beberapa event pertandingan, saya baca sekilas dari berbagai macam berita berdampak saat event terjadi, untuk berkelanjutan masih perlu dibangun," paparnya, Selasa (15/3/2025). 

Dia menyebut, okupansi stadion pada liga BRI Liga 1 memang belum seluruhnya penuh. Hasil sebuah survei, 36 persen responden menyatakan sangat sering dan sering menonton. Sementara, 64 persen masih jarang dan kadang-kadang. Dia menilai, 36 persen responden ini adalah penonton yang fanatismenya cukup tinggi kepada sebuah klub. Ada beberapa klub yang cukup menyumbang banyak penonton, diantaranya Persija dan Persib.

Menurut dia, fanatisme penonton menjadi value yang masih perlu dibangun. Jika sudah terbangun, dia meyakini dampak pada ekonomi akan semakin meluas.

"Yang mengidupkan sepak bola itu penontonnya. Dia menikmati, pulang bawa kesan," ujarnya. (eyf)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved