Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kendal

Pembelajaran Dewi Lebih Menyenangkan Melalui Pendekatan MIKIR

Dewi Nur Laksmi Astutiningtyas, S.Pd., guru SDN 4 Banyuringin Kabupaten Kendal menghadirkan pembelajaran pubertas.

Tayang:
Penulis: hermawan Endra | Editor: raka f pujangga
Tribunjateng/Hermawan Endra
GURU: Dewi Nur Laksmi Astutiningtyas, S.Pd. | Guru SDN 4 Banyuringin, Kab. Kendal | Guru Dampingan Fasda Perubahan 2.0 Tanoto Foundation 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dewi Nur Laksmi Astutiningtyas, S.Pd., guru SDN 4 Banyuringin Kabupaten Kendal, menghadirkan pembelajaran pubertas yang bermakna dan menyenangkan.

Dengan pendekatan MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, Refleksi) yang digagas Tanoto Foundation siswa diajak berdiskusi tanpa rasa malu, belajar dengan teknologi Al, serta menyampaikan pemahaman mereka lewat poster kreatif dan refleksi pribadi.

"Awalnya malu, sekarang nggak takut lagi," begitu kata Viola, siswa kelas 5 SDN 4 Banyuringin Kabupaten Kendal.

Baca juga: Pemprov Jateng dan Tanoto Fondation Bangun Sistem Data Driven Decision Making Tangani Stunting

Bersama teman-temannya, mereka menonton video edukatif, berdiskusi, hingga bermain kuis interaktif di Gimkit.

Hasilnya siswa jadi lebih percaya diri, kritis, dan sadar pentingnya menjaga tubuh dan-menghargai perubahan diri.

Menurut Dewi, Pengalaman belajar ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, anak-anak mampu memahami topik sensitif dengan percaya diri.

Mereka tak hanya belajar soal perubahan fisik, tapi juga bagaimana menjaga diri dan menghargai tubuh mereka sendiri.

"Pernah enggak sih belanja sesuatu, tapi cepet lipat ini karena kalian hanya menghafal bukan memahami. Hari ini saya mau bersamai anak-anakku belajar tentang pubertas dan bagaimana cara mereka melindungi diri dari kejahatan seksual tentunya saya menggunakan pendekatan deep learning atau pembelajaran secara mendalam," katanya.

Dewi Nur Laksmi Astutiningtyas, S.Pd., yang juga merupakan Guru Dampingan Fasda Perubahan 2.0 Tanoto Foundation itu menambahkam, dalam memahami materi ini ia menggunakan pendekatan mikir yang diinisiasi oleh Tanoto Foundation.

Pertama adalah mengalami, lalu selanjutnya interaksi, kemudian komunikasi dan terakhir adalah refleksi.

Peserta didik tidak hanya menerima informasi, tetapi mereka juga merasakan dan memahami perubahan yang dialami.

"Masih di tahap mengalami ia mengajak anak-anak menyimak video edukatif dan menuangkan pemahaman mereka ke dalam desain menarik menggunakan aplikasi Canva. Proses belajar pun menjadi lebih menyenangkan atau joyful," kata Dewi.

Selanjutnya pada proses interaksi diskusi berkelompok itu menjadi kunci.

Anak-anak membangun pemahaman mereka sendiri  dengan berdiskusi bertanya dan berbagi pengalaman. Hasilnya pembelajaran menjadi lebih mindful dan meaningful.

Selanjutnya pada tahap komunikasi, anak-anak mempresentasekan hasil diskusi mereka di depan kelas menggunakan aplikasi canva.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved