Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Purbalingga

Dulu Eksis, Koperasi Tani Max Yasa Purbalingga Sekarang Mati Suri

Sempat eksis pada masanya, kini Koperasi Tani Max Yasa yang diketuai oleh Ngahadi Hadi Prawoto, meredup

Penulis: Farah Anis Rahmawati | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG/Farah Anis Rahmawati
KOPERASI MAX YASA: Dokumentasi dan penghargaan kepada Ngahadi Hadi Prawoto selaku Ketua Koperasi Max Yasa, saat kunjungan Kementerian Koperasi dan UKM, Teten Masduki dan Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi pada tahun 2021 di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. (TRIBUNJATENG/Farah Anis Rahmawati) 

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA — Sempat eksis pada masanya, kini Koperasi Tani Max Yasa yang diketuai oleh Ngahadi Hadi Prawoto, meredup. 

Untuk diketahui, Koperasi Tani Max Yasa adalah salah satu koperasi binaan Provinsi dengan bisnis model yang dibangun dengan memproduksi dari hulu hingga hilir pertanian. 

Ketua Koperasi Max Yasa, Ngahadi Hadi Prawoto atau yang kerap disapa Hadi mengatakan, awal terbentuknya koperasi ini, ialah di sekitar tahun 2019. 

Sebelum berkoperasi, ia menyatakan memang telah lama menekuni pertanian bahkan melakukan ekspor. 

"Tetapi karena kedekatan kami dengan Dinas ataupun Kementrian Koperasi, kami disarankan untuk membentuk koperasi," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (13/5/2025). 

Sebagai Ketua dari Koperasi Max Yasa, Hadi telah mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya ia terpilih menjadi Local Hero dalam progam pendampingan petani dan perluasan akses pasar produk pertanian berorientasi ekspor melalui koperasi. 

Penghargaan tersebut ia raih di tahun 2021, saat kunjungan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki. 

Setelah sekian lama tidak terdengar, Hadi mengungkap kondisi koperasi, saat ini sudah meredup, bahkan sudah mengalami vakum selama kurang lebih 4-5 tahun. 

"Kondisinya sekarang mati suri, dari anggota pertama yang hampir 500an sekarang tersisa 15 anggota saja yang masih aktif," ungkapnya. 

Kondisi ini tentu bukan tanpa alasan, Hadi mengatakan menjalankan kegiatan koperasi ternyata tidak semudah itu. 

"Masyarakat di sini itu cenderung lebih suka dengan kebebasan. Karena kalau sudah dalam ikatan organisasi, harus ada pertemuan, pendidikan dan lain sebagainya ke kota-kota besar. Dan kegiatan tersebut memerlukan dana yang besar pula" jelasnya. 

Dengan berbagai kegiatan tersebut, lanjutnya, ia menyadari bahwa kapasitas pihaknya ternyata belum cukup maksimal. 

"Kita belum cukup maksimal untuk bisa berlari ke sana ke sini, kalau kita harus pendidikan keluar kota, dan lain sebagainya kan membutuhkan uang yang gak sedikit, bisa sampai Rp1-2 juta, nah itu sedikit memberatkan juga untuk kami," lanjutnya. 

Sementara itu, dengan adanya kegiatan yang cukup banyak tersebut, rupanya belum memberikan manfaat yang lebih tetapi justru sebaliknya. 

Hadi mengungkapkan, kegiatan tersebut cenderung memakan waktu dan biaya. Sehingga kurang memberikan manfaat. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved