Jawa Tengah
PSSI Jateng Ingin Kompetisi Usia Dini Terus Dijaga Konsistensinya
Hadirnya turnamen berskala besar dan berjenjang seperti MilkLife Soccer Challenge (MLSC) yang telah berjalan di Kota Semarang.
Penulis: hermawan Endra | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Hadirnya turnamen berskala besar dan berjenjang seperti MilkLife Soccer Challenge (MLSC) yang telah berjalan di Kota Semarang dalam beberapa waktu terakhir mendapat apresiasi positif dari Asprov PSSI Jawa Tengah.
Ajang ini diyakini sukses menumbuhkan ekosistem sepak bola putri yang lebih terstruktur di Jawa Tengah.
Setiap tahun, turnamen ini rutin digelar si beberapa Kota di Indonesia. Termasuk beberapa wilayah di Jawa Tengah seperti Kota Semarang, Kudus, dan Solo.
Baca juga: Sosok Finn Dicke, Terang-terangan Siap Gabung Timnas Indonesia, PSSI Siap Eksekusi?
Baca juga: Viral Syahrul Trisna Bantah Yoyok Sukawi, Mengaku Belum Menerima Sisa Gaji di PSIS Semarang
Pada seri pertama di Kota Semarang untuk kompetisi 2025-2026 yang digelar di Stadion Undip dan Lapangan Arhanud Jatingaleh, diikuti 1.213 siswi dari 64 Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD).
Antusiasme ini menjadi bukti bahwa pembinaan sejak usia dini mulai menemukan jalurnya.
Ketua Asprov PSSI Jateng, AS Sukawijaya atau Yoyok Sukawi, menyebut kompetisi ini sebagai fondasi penting untuk menjaga regenerasi pemain.
“Pembinaan yang dimulai dari kelompok usia dini akan melahirkan pemain berkualitas. Ini harus dijaga konsistensinya,” ujarnya, Selasa (12/8/2025).
Dampak kompetisi juga terlihat dari bertambahnya kelas khusus putri di sejumlah sekolah sepak bola (SSB) seperti Bhaladika Pertiwi, Arema FC Women Academy, dan Ratanika Putri Semarang.
Pelatih kini memiliki lebih banyak kesempatan membina talenta muda, sementara siswi punya panggung untuk mengasah kemampuan.
Dengan adanya pembinaan sejak usia dini, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun mendatang akan lahir generasi emas sepak bola putri Jawa Tengah yang mampu bersaing di kancah nasional bahkan internasional.
“Kompetisi berjenjang seperti MilkLife Soccer Challenge ini adalah fondasi penting untuk membentuk pemain berkualitas dan menjaga regenerasi berjalan dengan baik,” tambah Yoyok Sukawi.
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, menegaskan MLSC bukan sekadar turnamen, tetapi bagian dari upaya jangka panjang membangun infrastruktur sepak bola wanita.
Dengan format berjenjang mulai dari KU-8 hingga KU-16, diharapkan regenerasi pemain bisa terus terjaga dan memunculkan generasi emas sepak bola putri Indonesia.
“Kami akan terus mendorong melalui penyelenggaraan turnamen ini sebagai upaya menjaga regenerasi supply pemain. Dengan demikian, visi kami untuk memperkokoh posisi sepak bola wanita Indonesia di mata dunia akan segera terwujud,” tegas Yoppy.
Selain menghadirkan persaingan sehat, turnamen ini turut menghidupkan ekosistem sepak bola putri secara keseluruhan.
Klub-klub dan sekolah sepak bola (SSB) mulai membuka kelas khusus putri, pelatih mendapatkan lebih banyak kesempatan membina talenta muda, dan para siswi memiliki panggung untuk mengasah kemampuan mereka. (*)
| Dua PLTU di Jawa Tengah Pakai Serbuk Gergaji Terapkan Co-Firing, Buka Potensi Petani Terusir |
|
|---|
| DPRD Jateng Dukung Langkah Kemenag Bentuk Satgas P2KP Buntut Kasus Pelecehan Seksual di Ponpes |
|
|---|
| Daftar 23 Kecamatan Masuk Kategori Blankspot Pendidikan di Jateng, Tidak Punya SMA atau SMK |
|
|---|
| Pemprov Jateng Kesulitan Penuhi 87 Persen Lahan Baku Sawah sebagai Syarat Bentuk RTRW |
|
|---|
| Marak Kasus Kekerasan Seksual, Kemenag akan Panggil Pengasuh 5.400 Ponpes untuk Bentuk Satgas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250812_Kompetisi-Usia-Dini-Sepak-Bola-Wanita.jpg)