Rabu, 3 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Lewat Danantara, Pemerintah Bangun Peternakan Ayam Terintegrasi Rp 20 Triliun

Pemerintah ingin harga DOC bagi peternak, telur, dan daging ayam stabil dengan cara mengintervensi bagian hulu rantai produksi.

Tayang:
Editor: Vito
Dok Tribun Jateng
ilustrasi - peternakan ayam di Bandungan Kabupaten Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pemerintah telah memulai pembangunan peternakan ayam terintegrasi melalui Danantara senilai Rp 20 triliun, untuk mengimbangi dua perusahaan besar yang mendominasi industri ayam dan telur. 

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, proyek peternakan ayam yang dibangun nantinya akan menyuplai kebutuhan day old chicken (DOC) atau bibit ayam bagi para peternak kecil.

“Pemerintah di hulu sebagai stabilisator,” katanya, saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (10/2). 

Menurut dia, pemerintah merasa harus mengambil peran tersebut karena sudah berkali-kali mendapati peternak skala kecil kesulitan mendapatkan DOC dengan harga terjangkau. 

Hal itu membuat rantai industri peternakan ayam dan telur terus mengalami keributan, termasuk antara produsen DOC dan peternak, sehingga berdampak pada kenaikan harga telur serta daging ayam. 

Amran menuturkan, pemerintah ingin harga DOC bagi peternak, telur, dan daging ayam stabil dengan cara mengintervensi bagian hulu rantai produksi dengan cara membangun pabrik DOC, vaksin, dan pakan. 

“Di hulu di mana? Pakan, vaksin, dan DOC. Tanpa itu tidak mungkin. Sampai kiamat pun kita ribut dengan konsumen dan produsen. Jadi dua-dua berteriak nih,” ucapnya. 

Amran menceritakan, pada satu waktu ia mendapati peternak menjerit karena produsen menaikkan harga DOC hingga 30 persen.

Ia lalu mengancam pengusaha tersebut untuk menurunkan harga jual DOC dengan ancaman mencabut izin impor. “Kalau kamu tidak turunkan, aku setop impormu, impor DOC,” ujarnya. 

Dia menambahkan, situasi akan berbeda jika pemerintah melalui BUMN terlibat dalam rantai produksi telur dan daging ayam di hulu. Sebab, BUMN lebih bisa dikendalikan dibandingkan dengan pengusaha swasta. 

Ia menyebut, jajaran direksi perusahaan pelat merah tidak akan berani menentang kebijakan pemerintah dengan menaikkan harga DOC maupun pakan. 

“Kenapa BUMN kami libatkan? Kalau BUMN-nya macam-macam, kami copot. Sederhana kan? Bener enggak? Jadi nanti bergeraknya BUMN di hulu,” tukasnya. 

“Ini pemerintah tidak mungkin macam-macam direksinya, garis komando. Kamu naikkan harga atau menyusahkan peternak, ya dia ditindak," sambungnya.

Amran pun membenarkan keterlibatan BUMN dalam rantai industri ayam dan telur itu untuk mengimbangi aktivitas bisnis dua perusahaan besar di bidang itu. 

Ia sempat menyebut, dua perusahaan itu menguasai 70 persen perputaran uang industri ayam dan telur senilai Rp 554 triliun. “Ini (industri ayam dan telur) nilainya Rp 554 triliun, 70 persen ini dipegang dua orang,” jelasnya, beberapa waktu lalu.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved