Sabtu, 30 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Makin Ambruk, NIlai Tukar Rupiah Tembus Rp 18.100 di Money Changer

Pada satu money changer di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, nilai tukar dolar AS bahkan ada yang mencapai level Rp 18.100 per dolar AS.

Tayang:
Editor: Vito
vecteezy.com
ILUTRASI UANG RUPIAH - 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot semakin ambruk, dengan ditutup di level Rp 17.846 per dolar AS, melemah 0,25 persen dari posisi hari sebelumnya di Rp 17.801 per dolar AS. Pelemahan ini menjadi yang keenam secara beruntun.

Meski demikian, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat beragam di kios-kios penukaran uang asing atau money changer

Berdasarkan temuan reporter Tribunnewscom, di beberapa money changer di kawasan Pasar Minggu dan Fatmawati, Jakarta Selatan, nilai tukar dolar terhadap rupiah menunjukkan angka yang lebih tinggi dari patokan angka internasional.

Pada satu money changer di wilayah itu, nilai tukar dolar AS bahkan ada yang mencapai level Rp 18.100 per dolar AS.

"Kalau mau beli (dolar AS) di Rp 18.100," kata seorang petugas Money Changer di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Kamis (28/5).

Sementara, money changer yang berada di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan menetapkan nilai tukar dolar AS berada di angka Rp 17.900.

Selanjutnya, satu money changer di kawasan Pondok Indah menetapkan nilai tukar dolar AS berada di angka Rp 17.930.

Berkait dengan perbedaan harga beli dolar tersebut, seorang pegawai money changer mengungkapkan, apa yang tertera saat ini di mesin pencari google soal informasi nilai tukar rupiah terhadap dolar merupakan rujukan bagi dunia internasional.

Sementara realisasinya di pasar, termasuk money changer, menurut dia, ditetapkan oleh masing-masing kios atau petugas masing-masing.

"Kalau untuk rate yang di Google itu rate kurs tengah atau market pasaran (global). Tapi kalau kami money changer, rate kami jual. Jadi rate kami yang jual gitu lho. Itu kan cuma acuan doang kalau yang di Google, bukan buat untuk jual beli," jelasnya.

Adapun, dosen Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengatakan, risiko terbesar yang perlu diwaspadai pemerintah berkait dengan pelemahan rupiah bukan hanya inflasi atau kenaikan beban utang, melainkan hilangnya keyakinan pasar terhadap kemampuan otoritas menjaga stabilitas ekonomi. 

“Jika rupiah menembus Rp 20.000 per dollar AS, risiko terbesar yang harus pemerintah waspadai adalah krisis kepercayaan pasar,” tukasnya, kepada Kompas.com, Kamis (28/5). 

Menurut dia, inflasi dan beban utang memang akan ikut tertekan, tetapi keduanya bisa membesar ketika pelaku pasar mulai kehilangan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI). 

Syafruddin menuturkan, pelemahan rupiah ke level Rp 20.000 dapat mendorong importir memburu dolar AS, eksportir menahan devisa hasil ekspor, investor meminta imbal hasil lebih tinggi, hingga rumah tangga kelas menengah mencari aset lindung nilai. 

“Tekanan seperti itu dapat menciptakan lingkaran buruk: rupiah melemah, inflasi impor naik, biaya utang meningkat, dan premi risiko melonjak,” terangnya. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved