Tribun Jateng Hari Ini
Sentimen Global Memburuk, IHSG Masih Berpotensi Melemah Lagi
Selama sentimen global belum kondusif, IHSG kemungkinan masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (2/4). IHSG terkoreksi 2,19 persen atau 157,66 poin ke level 7.026,78, dengan tekanan jual yang masih dominan di pasar.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda mengatakan, pelemahan IHSG dipicu sentimen global yang kembali memburuk, terutama berkait dengan perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
“Tekanan jual, khususnya dari investor asing, masih cukup dominan. Sentimen utamanya masih datang dari faktor global, terutama soal geopolitik di Timur Tengah,” katanya, kepada Kontan, akhir pekan lalu.
Menurut dia, sempat muncul optimisme setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut konflik berpotensi segera berakhir.
Namun, pernyataan terbaru justru bernada lebih agresif, sehingga memicu kembali mode risk-off di pasar.
Ia berujar, kondisi itu diperparah oleh lonjakan harga energi, khususnya minyak mentah, yang turut menekan sentimen pasar global.
Dari domestik, Reza menuturkan, kebijakan pemerintah untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan mendorong efisiensi dinilai cukup tepat dalam meredam dampak kenaikan harga energi.
Namun, dia menambahkan, pasar mulai mencermati potensi pelebaran defisit APBN. Selain itu, data ekonomi yang dirilis juga menunjukkan kondisi yang cenderung beragam.
Surplus neraca perdagangan masih tercatat, namun mengalami penurunan secara tahunan. Sementara, inflasi yang mulai melandai di satu sisi menjadi sentimen positif, tetapi juga mencerminkan moderasi daya beli masyarakat.
Secara teknikal, Reza menilai, IHSG masih berada dalam tekanan dengan kecenderungan konsolidasi. “Support kuat di level 7.000 dan resistance di kisaran 7.100 hingga 7.200," ujarnya.
"Selama sentimen global belum kondusif, IHSG kemungkinan masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah,” sambungnya.
Senada, Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan menilai, pergerakan IHSG saat ini berada dalam fase sideways setelah mengalami tekanan jual yang cukup panjang.
“Secara teknikal, IHSG mulai membentuk base, sehingga fase fear yang sebelumnya dominan mulai mereda. Namun, belum terlihat adanya buyer kuat yang mampu mendorong indeks keluar dari fase konsolidasi,” ucapnya.
Menurutnya, arah pergerakan IHSG ke depan masih sangat bergantung pada sentimen global, khususnya pergerakan harga minyak yang saat ini menjadi satu indikator utama pasar.
Jika harga minyak mulai turun, Ekky menyatakan, sentimen pasar berpotensi membaik dan membuka ruang penguatan IHSG. Sebaliknya, kenaikan harga minyak dapat kembali menekan pasar global, termasuk Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ihsg-cetak-rekor-lagi.jpg)