Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Sebuah Pelana Kuda dan Mata Air Abadi: Memahami Tradisi Guyang Cekatak, Pengingat Jasa Sunan Muria

Sendang Rejoso yang terletak di bawah puncak Gunung Muria kompleks Makam Sunan Muria mendadak ramai dipadati ratusan warga.

Tayang:
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
URI-URI TRADISI - Pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria memandikan pelana kuda dalam tradisi Guyang Cekatak di Sedang Rejoso kompleks Makam Sunan Muria, Jumat (19/9/2025). Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sebagai pengingat perjuangan dakwah Sunan Muria di Lereng Gunung Muria, sekaligus ritual doa minta keberkahan hujan.  

Pelaksanaan tradisi Guyang Cekatak dan Sedekah Sendang Rejoso diikuti lebih dari 300 peserta.

Terdiri dari warga Colo, peziarah, pedagang, pelajar, mahasiswa, hingga tukang ojek ikut serta menikmati hidangan selamatan yang digelar untuk umum.

"Selamatan ini bentuk rasa syukur warga, masing-masing membawa nasi berkat untuk dimakan bersama-sama saat pelaksanaan tradisi. Ada juga menu yang sudah disediakan oleh pengurus Masjid dan Makam Sunan Muria," tuturnya.

Selain selamatan menggunakan alas daun jati, ritual pamungkas Guyang Cekatak berupa tabur cendol dawet atau hujan dawet di Sendang Rejoso. 

Cendol dawet tawar yang telah disiapkan ditaburkan serentak ke arah langit, agar menyerupai terjadinya hujan cendol dawet. 

Tradisi ini merupakan representasi kegiatan menawu (menguras) kubangan kecil di Sendang Rejoso ketika musim kemarau.

Bertujuan membersihkan kubangan tersebut agar bersih kembali dan siap menampung lebih banyak air hujan atau air mata air.

"Dalam proses menawu kubangan air Sendang Rejoso ini dilakukan sampai bersih termasuk menawu lumut atau cendol-cendol yang ada di kubangan air. Kemudian diaplikasikan dalam bentuk menabur cendol dawet, bagian dari ikhtiar meminta hujan dari warga Lereng Muria. Kebetulan tahun ini pelaksanaan tradisi Guyang Cekatak sudah ada hujan, berharap keberkahan dari hujan tersebut," harapnya.

Satu di antara peserta tradisi Guyang Cekatak adalah Anggun (29) warga asli Desa Colo, Kecamatan Dawe.

Anggun merupakan satu dari ratusan pedagang yang mengais rizki di kompleks Makam Sunan Muria.

Tercatat sudah 10 tahun dia berdagang pakaian yang dijual kepada para peziarah Makam Sunan Muria.

Lebih dari 10 kali sudah Anggun ikut serta dalam pelaksanaan tradisi Guyang Cekatak.

Satu momentum yang selalu membuatnya terharu adalah prosesi selamatan dengan menyantap hidangan sarapan secara bersama-sama.

Kata dia, momen tersebut mahal dan tak ternilai, ratusan warga duduk bersama dengan suasana bahagia untuk sarapan pagi serentak.

Sekaligus sebagai ajang merekatkan masyarakat Desa Colo dengan berbagai profesi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved