Sabtu, 2 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Sebuah Pelana Kuda dan Mata Air Abadi: Memahami Tradisi Guyang Cekatak, Pengingat Jasa Sunan Muria

Sendang Rejoso yang terletak di bawah puncak Gunung Muria kompleks Makam Sunan Muria mendadak ramai dipadati ratusan warga.

Tayang:
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
URI-URI TRADISI - Pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria memandikan pelana kuda dalam tradisi Guyang Cekatak di Sedang Rejoso kompleks Makam Sunan Muria, Jumat (19/9/2025). Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sebagai pengingat perjuangan dakwah Sunan Muria di Lereng Gunung Muria, sekaligus ritual doa minta keberkahan hujan.  

"Tahun lalu (2024), pelaksanaan tradisi ini dilakukan pada akhir Agustus. Kebetulan tahun ini, Jumat Wage pada hitungan mongso ketigo (musim kemarau periode ketiga) jatuhnya di pertengahan September," terangnya.

Mastur menyampaikan, pengurus Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria tahun ini mengemas pelaksanaan tradisi tersebut dengan istilah Guyang Cekatak dan Sedekah Sendang Rejoso.

Menurut dia, Guyang Cekatak tidak hanya sekadar nguri-uri tradisi kebiasaan Sunan Muria yang memandikan kudanya di Sendang Rejoso. Juga sebagai bentuk ta'dzim atau penghormatan masyarakat kepada sosok Sunan Muria yang telah menyebarkan Islam dan kebaikan di lereng Gunung Muria

Pelana kuda yang menjadi ikon tradisi Guyang Cekatak merupakan salah satu peninggalan Sunan Muria yang masih terjaga dengan baik hingga saat ini.

Meskipun kondisinya sudah rapuh.

Berdasarkan kisah yang dipercaya masyarakat Colo secara turun temurun, pelana tersebut bagian dari transportasi Sunan Muria ketika masa berdakwah di lereng Gunung Muria menggunakan kuda putih.

Sementara mata air di Sendang Rejoso digunakan untuk berwudhu sekaligus memandikan kudanya

"Jadi banyak tujuan terkait tradisi Guyang Cekatak. Pertama, nguri-uri perjuangan yang dilakukan Sunan Muria dalam berdakwah, khususnya kepada generasi muda agar tahu dan mengerti sejarah," jelasnya.

Selamatan Rasa Syukur Warga

Mastur menyebut, pelengkap dari pelaksanaan tradisi Guyang Cekatak adalah Sedekah Sendang Rejoso.

Sedekah yang dimaksud berupa selamatan menyantap nasi dengan lauk gulai kambing, daging ayam, urap kulban, dan aneka jenis lauk lainnya di kawasan Sendang Rejoso.

Biasanya, kulban atau sayur yang digunakan masyarakat sebagai pelengkap hidangan diambil dari jenis daun kelor, daun dadap, dan daun mengkudu.

Tiga jenis daun yang dipilih konon yang disukai Sunan Muria, mengingat banyaknya kandungan kesehatan yang ada di dalamnya.

Pihak Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria juga menyiapkan makanan beserta lauk yang bisa disantap masyarakat umum.

Sementara masyarakat Desa Colo mengikuti prosesi selamatan dengan membawa bekal sendiri dari rumah untuk dimakan bersama warga lainnya serentak.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved