Berita Banjarnegara
Merawat Serayu, Menjaga Harapan Energi Berkelanjutan
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PB Soedirman yang dioperasikan Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu terus dipacu di tengah derasnya sedimentasi.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Tiga kapal pengeruk (dredger) terus beroperasi di Bendungan Panglima Besar (PB) Soedirman atau dikenal Waduk Mrica Banjarnegara, Jawa Tengah.
Mesin itu tak henti mengeruk sedimen yang telah menyulap sebagian area waduk menjadi daratan.
Ikhtiar mengurangi endapan lumpur yang mengancam operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PB Soedirman yang dioperasikan Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu terus dipacu, di tengah derasnya laju sedimentasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu.
Baca juga: Hari Listrik Nasional, PLN UID Jateng dan DIY Bersama LAZiS Jateng Gelar Khitan Ceria
Ini bukan pekerjaan mustahil. Senior Manager PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Mrica Nazrul Very Andhi tetap optimis, pihaknya mampu mengendalikan sedimen waduk untuk menjaga keberlanjutan PLTA PB Soedirman.
Air adalah nafas alias komponen utama yang tak tergantikan dalam proses pembangkitan listrik PB Soedirman. Karena itu, ketersediaan sumber energi baru terbarukan (EBT) tersebut wajib dirawat.
“Minimal bisa mengurangi 2 persen dari 133 juta meter kubik sedimen, itu sudah bagus,”katanya, Selasa (21/19/2025).
Bendungan PB Soedirman bukan hanya ujung tombak operasional PLTA, tapi sekaligus urat nadi kehidupan masyarakat 5 kabupaten, yakni Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap.
Bicara bendungan tak melulu soal bisnis listrik. Waduk Mrica juga berfungsi mengalirkan air untuk irigasi yang menjangkau puluhan ribu hektar lahan pertanian di beberapa kabupaten. Dari situ, perekonomian warga, khususnya petani berdenyut.
Waduk Mrica juga berguna sebagai pengendali bencana banjir. Di situ luapan Sungai Serayu tertahan, lalu dialirkan secara terkendali untuk mencegah banjir di wilayah hilir.
“PLTA tak hanya mendukung kedaulatan energy, tapi juga kedaulatan pangan lewat irigasi,”katanya
Sejak beroperasi tahun 1989, PLTA PB Soedirman nyaris tak pernah berkonflik dengan masyarakat.
Ini membuktikan, bisnis berbasis EBT ini tak mencemari dan merugikan lingkungan. PLTA memang tak menghasilkan emisi gas rumah kaca karena tidak ada aktivitas pembakaran saat beroperasi.
Sebaliknya, keberadaan PLTA PB Soedirman justru membawa berkah bagi warga.
“PLTA dengan EBT itu besar di awal untuk investasinya, bikin bendungan pembebasan lahan, tapi seterusnya efisien,”katanya.
Problem Sedimentasi
| Deretan Foto Mencekam Jalan Akses Menuju Dieng Tersisa Aspal Hanya 1 Meter via Karangkobar-Batur |
|
|---|
| BREAKING NEWS Longsor di Ratamba Banjarnegara, Akses Menuju Dieng Dialihkan Lewat Wanayasa-Pejawaran |
|
|---|
| Detik-detik Tanah Longsor Timpa 3 Rumah di Banjarnegara, Bocah 10 Tahun Jadi Korban |
|
|---|
| Tabir Gelap Bayi di Plafon SMK Banjarnegara Terungkap: Pelaku Ternyata Siswi Berusia 15 Tahun |
|
|---|
| Dapur Umum PMI Banjarnegara Tetap Siaga, Siapkan Menu Variatif untuk Jaga Stamina Relawan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251023_PLTA-Mrica_1.jpg)