Kamis, 14 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Cilacap

Wajah Baru Kutawaru, Desa Terisolasi yang Kini Berdikari

Lewat program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku), warga Kutawaru terberdayakan. 

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: raka f pujangga
Tribunjateng/Khoirul Muzaki
RAWAT KEPITING - Rato, Ketua Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku) merawat kepiting di Kampoeng Kepiting Kelurahan Kutawaru, Cilacap, Selasa (2/9/2025). 

Sebuah ikon Patung Kepiting bertuliskan “Kampoeng Kepiting” seakan menyambut setiap tamu yang datang. 

Di tempat itu lah, warga Kutawaru merajut harapan.  Di balik rimbun Mangrove dan air tambak yang tenang, mengalir banyak cuan. 

Bekas tambak udang itu kini tak pernah sepi wisatawan.  Tempat yang dulu jarang terjamah kini menjelma jadi rujukan wisata makan. 

Tiap hari,  tempat itu diserbu para pecinta kuliner untuk menjajal olahan sea food, khususnya kepiting yang jadi menu andalan. 

“Kampoeng Kepiting buka tiap hari, paling ramai week end,”katanya

Kampoeng Kepiting adalah contoh bagaimana mata rantai usaha dari hulu ke hilir bisa bersatu.

Di tempat itu kepiting dibudidayakan, di situ pula biota laut itu dijual jadi makanan olahan. 

Beberapa saung bergaya Jawa berdiri di atas lahan tambak. Suara ketukan wajan sesekali terdengar di tengah riuh canda pelanggan menanti hidangan.  

Aroma sedap masakan yang hampir matang menyeruak, membuat lidah semakin tak sabar.  Berbagai hidangan lezat dari olahan udang, kepiting, kakap hingga bawal laut berhasil memenuhi rasa lapar. 

“Ini hasil budidaya dan tangkapan nelayan sendiri,”katanya.

Tambak Terbengkalai

Keberhasilan Kampoeng Kepiting Kutawaru bukan sulapan. Ada peran Pertamina yang setia melakukan pendampingan.  Juga ada keringat para anggota bermental pejuang. 

Ini diakui Rato, Local Hero sekaligus Ketua Kelompok Mamaku .  

Sebelum dibuka Kampoeng Kepiting, area ini dulunya bekas tambak udang yang terbengkelai.  Untuk membuka tambak, Hutan Mangrove dibabat hingga ekosistem rusak dan rentan abrasi. 

Sayangnya, saat usaha itu surut, bekas tambak udang ditinggalkan, tanpa direhabilitasi.  Lewat pendampingan Pertamina, kelompok Mamaku memanfaatkan lahan itu sehingga lebih produktif. 

“Kita berdiri tahun 2019, dapat support 100 persen dari Pertamina lewat CSR,”kata Rato, Local Hero sekaligus Ketua Kelompok Mamaku 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved