Breaking News
Kamis, 14 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Cilacap

Wajah Baru Kutawaru, Desa Terisolasi yang Kini Berdikari

Lewat program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku), warga Kutawaru terberdayakan. 

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: raka f pujangga
Tribunjateng/Khoirul Muzaki
RAWAT KEPITING - Rato, Ketua Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku) merawat kepiting di Kampoeng Kepiting Kelurahan Kutawaru, Cilacap, Selasa (2/9/2025). 

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Secara geografis, Kelurahan Kutawaru Kecamatan Cilacap Tengah dekat dengan pusat Kota Cilacap.  

Masalahnya, keduanya terpisah Segara Anakan.  

Bagi warga Kutawaru, gemerlap kemajuan kota hanya dekat di pandangan. 

Untuk menjangkau kota, via jalur darat, warga butuh perjalanan kurang lebih sejam.

Baca juga: Pertamina Tambah Pasokan BBM 15 Persen di Jalur Alternatif Semarang-Demak, Akibat Banjir Pantura

Tak ayal moda transportasi perahu jadi pilihan warga untuk memangkas perjalanan. 

Tinggal di pesisir membuat warga tak punya banyak alternatif mata pencaharian.

Lahan pertanian yang terbatas hanya bisa ditanami kala hujan.

Selain itu, warga mengandalkan jadi nelayan. 

Namun belakangan matapencaharian itu pun terancam.

Masuknya Pukat Harimau di perairan Cilacap merusak ekosistem laut hingga tangkapan nelayan terus menurun. 

Minimnya lapangan kerja di desa membuat warga banyak merantau ke kota, bahkan luar negeri sebagai buruh migran

“Di sini banyak TKI, karena pekerjaan di desa susah,”kata Koordinator Kelompok Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku) Warrie Anto, Selasa (2/9/2025).

Gayung bersambut. Keberadaan PT Kilang Pertamina International Revinery Unit (RU) IV Cilacap di wilayah itu membawa angin segar. 

Lewat program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku), warga Kutawaru terberdayakan. 

Di salah satu sudut gang Kelurahan Kutawaru, sebuah area seluas sekira 2 hektar kini jadi destinasi menawan.  

Sebuah ikon Patung Kepiting bertuliskan “Kampoeng Kepiting” seakan menyambut setiap tamu yang datang. 

Di tempat itu lah, warga Kutawaru merajut harapan.  Di balik rimbun Mangrove dan air tambak yang tenang, mengalir banyak cuan. 

Bekas tambak udang itu kini tak pernah sepi wisatawan.  Tempat yang dulu jarang terjamah kini menjelma jadi rujukan wisata makan. 

Tiap hari,  tempat itu diserbu para pecinta kuliner untuk menjajal olahan sea food, khususnya kepiting yang jadi menu andalan. 

“Kampoeng Kepiting buka tiap hari, paling ramai week end,”katanya

Kampoeng Kepiting adalah contoh bagaimana mata rantai usaha dari hulu ke hilir bisa bersatu.

Di tempat itu kepiting dibudidayakan, di situ pula biota laut itu dijual jadi makanan olahan. 

Beberapa saung bergaya Jawa berdiri di atas lahan tambak. Suara ketukan wajan sesekali terdengar di tengah riuh canda pelanggan menanti hidangan.  

Aroma sedap masakan yang hampir matang menyeruak, membuat lidah semakin tak sabar.  Berbagai hidangan lezat dari olahan udang, kepiting, kakap hingga bawal laut berhasil memenuhi rasa lapar. 

“Ini hasil budidaya dan tangkapan nelayan sendiri,”katanya.

Tambak Terbengkalai

Keberhasilan Kampoeng Kepiting Kutawaru bukan sulapan. Ada peran Pertamina yang setia melakukan pendampingan.  Juga ada keringat para anggota bermental pejuang. 

Ini diakui Rato, Local Hero sekaligus Ketua Kelompok Mamaku .  

Sebelum dibuka Kampoeng Kepiting, area ini dulunya bekas tambak udang yang terbengkelai.  Untuk membuka tambak, Hutan Mangrove dibabat hingga ekosistem rusak dan rentan abrasi. 

Sayangnya, saat usaha itu surut, bekas tambak udang ditinggalkan, tanpa direhabilitasi.  Lewat pendampingan Pertamina, kelompok Mamaku memanfaatkan lahan itu sehingga lebih produktif. 

“Kita berdiri tahun 2019, dapat support 100 persen dari Pertamina lewat CSR,”kata Rato, Local Hero sekaligus Ketua Kelompok Mamaku 

Tambak dibiarkan tetap menggenang. Tanah sisa sekitarnya ditanami Mangrove  yang akarnya menjadi rumah bagi biota laut, seperti ikan, udang dan kepiting. 

Hingga berjalannya waktu, tambak yang dulunya mati kembali hidup. Ekonomi tumbuh. 

Di pojok tambak,  puluhan galon bekas yang telah dimodifikasi tertata rapi di rak bertingkat. Dinamai Rumah Susun Kepiting Berbasis Energi (Rusun Tinggi), inovasi budidaya kepiting cangkang lunak di lahan terbatas. 

Teknologi ini memungkinkan budidaya kepiting bisa dilakukan dimanapun, tak harus di tambak. 

Kepiting cangkang lunak sendiri jadi menu favorit di Kampoeng Kepiting. Seluruh bagian kepiting ini bisa dikonsumsi, tanpa harus repot mengupasnya. 

“Budidaya kepiting model Rusun Tinggi bisa ditiru warga, karena bisa di lahan sempit pekarangan rumah,”kata Rato

Rusun Tinggi dilengkapi aerator untuk menjaga kualitas air dan oksigen. Menariknya, listrik penggerak aerator bersumber dari energi matahari.  Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bahkan mampu mencukupi seluruh kebutuhan listrik di tempat ini.  

Dengan menguasai usaha dari hulu ke hilir, kelompok Mamaku bisa meraup untung lebih.  Mereka untung bukan hanya dari panen tambak, namun juga menjual produk kuliner.  

Dalam sehari, omzet Kampoeng Kepiting mencapai Rp 5 sampai 6 juta, atau sekitar Rp 90 juta sebulan.             

Omzet ini belum termasuk hasil penjualan kepiting mentah yang dihargai Rp 130 ribu per kilogram.

“Ikan dan kepiting hasil budi daya masuk kesini, nanti dimasak ibu-ibu untuk hidangan tamu,”ujarnya.

20251031_program Mamaku Pertamina_1
PASAR AMARTA- Aktivitas jual beli di Pasar Tradisional Amarta Kelurahan Kutawaru, Cilacap. Pasar didirikan bagian dari program Mamaku Pertamina.

Simpul Ekonomi Baru Pasar Amarta

Bukan hanya sukses menyejahterakan anggota, Kelompok Mamaku menjadi katalisator lahirnya simpul-simpul ekonomi di desa.  Diakui Rato, keterbatasan wilayah Kelurahan Kutawaru menyulitkan warga dalam berbagai hal, termasuk dalam mencukupi kebutuhan harian. 

Harga kebutuhan di kelurahan ini bisa berlipat. Ini karena keterbatasan akses mobilisasi barang dari kota atau daerah luar. Ongkos kirim mahal karena harus melalui akses laut, atau jalur darat yang jauh. 

Kondisi ini menyulitkan warga di tengah kondisi ekonomi warga yang berada di garis kemiskinan.  

“Dulu kalau belanja harus ke kota naik perahu, karena di sini tidak ada pasar,”kata Rato

Dengan dukungan CSR Pertamina, warga berinisiatif membangun pasar tradisional bernama Pasar Amarta. Keberadaan pasar ini membantu warga untuk mencukupi kebutuhannya. 

Mereka tidak perlu lagi repot membelah laut demi membeli berbagai kebutuhan di kota. Harga kebutuhan juga semakin terjangkau karena persaingan banyak penjual. 

Pasar Amarta jadi kantong ekonomi baru, dimana banyak warga  beralih jadi pedagang dan membuka lapak di pasar. Saat ini, kata dia,  Pasar Amarta terisi 70 kios, serta 15 lapak di area luar pasar. 

“Belum lagi ada tukang parkir, orang jualan kuliner, untuk kas RT dan pendapatan retribusi,” paparnya.

20251031_Pengelola Bank Sampah Abhipraya Kelurahan Kutawaru, Cilacap_1
BANK SAMPAH - Pengelola Bank Sampah Abhipraya Kelurahan Kutawaru, Cilacap memilah sampah plastik sebelum dijual, Selasa (2/9/2025).

Mandiri Kelola Sampah 

Sampah menjadi persoalan lingkungan serius yang dialami di hampir setiap daerah. Lbih-lebih dirasakan warga Kelurahan Kutawaru Cilacap

Razman Syarifudin, warga RT 3 RW 3 Kelurahan Kutawaru sekaligus pengelola Bank Sampah Abhipraya menyampaikan, sebab terisolasi dari daerah luar, warga kelurahannya sempat kesulitan membuang sampah. 

Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang ada terlampau jauh.  Jika sampah diangkut melalui jalur laut, ongkos pengiriman terlalu mahal.  

Alhasil, warga terpaksa membuang sampah asal, hingga mencemari laut dan daratan.

Tapi dampaknya, pembuangan sampah di sungai lambat laun mematikan matapencaharian nelayan. Ekosistem laut rusak, termasuk ikan. Hasil tangkapan berkurang. 

“Laut kotor mempengaruhi tumbuh ikan, sampah juga masuk ke jarring apung. Ikan juga tinggi merkuri karena pencemaran,”katanya

Namun dari kesulitan ini, kreativitas lahir. Melalui program Mamaku, warga inisiatif membangun Tempat Pengolahan Sampah (TPS) secara mandiri. 

Bank Sampah Abhipraya dilengkapi berbagai alat produksi bantuan Pertamina, di antaranya mesin pencacah plastik dan komposter. 

Limbah yang sebelumnya terbuang kini menjadi bernilai jual. Menariknya, warga bisa menukar sampah dengan berbagai kebutuhan harian, atau menjadi tabungan di Bank Sampah. 

Dari tempat ini problem sampah teratasi.  Semua sampah dipilah untuk dijual atau diolah. Sampah plastik dihaluskan menggunakan mesin pencacah. Sebagian disulap menjadi barang kerajinan. 

“Sampah dari rumah-rumah warga dimasukkan kantong, nanti dijemput,”katanya

Sementara sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan untuk budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF).

Maggot adalah proitein tinggi untuk untuk pakan unggas dan ikan yang dibudidayakan di lahan kelompok. 

Tak hanya profit, keberadaan Bank Sampah berhasil mengubah kebiasaan buruk warga membuang sampah, jadi aktivitas ekonomi sirkular dan sikap peduli terhadap lingkungan. 

Kini wajah lingkungan Kelurahan Kutawaru telah berubah. Tak terlihat ada sampah berserak, atau menumpuk di lahan terbuka.  Sampah tak lagi jadi masalah, sebab semua terolah.  

“Lingkungan gak kotor, warga juga dapat penghasilan dari Bank Sampah,”katanya

Dukungan Pertamina

Mengantar keberhasilan kelompok Mamaku bukan perkara instan. Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap Cecep Supriyatna mengungkapkan, sebelum menurunkan program, pihaknya lebih dulu melakukan social mapping bekerja sama dengan Universitas Gajah Mada (UGM). 

Dari hasil social mapping, kebutuhan warga akan terlihat. Dari situ juga terpetakan siapa sosok berpengaruh di wilayah tersebut yang berpotensi menjadi local hero. 

Pihaknya lantas menindaklanjutinya dengan menggelar Forum Group Discussion (FGD) bersama Pemerintahan Kelurahan Kutawaru untuk membentuk kelompok Mamaku. 

“Kuncinya membuat program berdasarkan kebutuhan masyarakat. Makanya kita lakukan social mapping dan butuh local hero,”katanya

Pihaknya juga menggelar pelatihan untuk meng-upgrade pengetahuan dan kemampuan anggota sesuai kebutuhan. 

Ia mencontohkan, gagasan destinasi wisata kuliner kampoeng Kepiting awalnya belum didukung pengetahuan warga tentang bisnis kuliner atau keahlian memasak. 

Pihaknya tak segan mendatangkan koki (chef) dari hotel untuk mengajari anggota perempuan memasak, hingga cara menyajikan hidangan ala pelayan hotel.  

“Kita panggil chef hotel untuk latih memasak, apa saja bumbunya hingga caea menghidangkannya, pelatihan ini gratis,”katanya

Adapun para lelaki dilatih untuk budidaya kepiting hingga penanaman Mangrove. Dimana kegiatan tersebut sekaligus menunjang destinasi kuliner dengan menu spesial kepiting. 

Wisata terpadu ini tak sekadar menawarkan menu makanan special yang susah didapat di tempat lain. 

Baca juga: Daftar Motor dan Mobil Dilarang Isi BBM Pertalite di SPBU Pertamina per 31 Oktober 2025

Menuju Kampoeng Kepiting, tamu akan diajak menikmati perjalanan yang mengesankan, mulai dari sensasi naik perahu membelah Segara Anakan, sembari menikmati gemerlap Kilang Pertamina di seberang. 

Dengan kereta kelinci, pengunjung diajak jalan menyusuri desa dengan pemandangan kebun Minyak Kayu Putih, hingga kebun Mangrove yang menyejukkan. 

“Keberhasilan program ini adalah lahirnya kemandirian. Semakin besar, multiplier effect nya kian luas, dan bisa jadi percontohan,”katanya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved