Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Readers Note

Beli Iphone Baru Dilema antara Gengsi dan Merawat Bumi

Membeli ponsel terbaru artinya kita juga turut berkontribusi dalam menambah tumpukan limbah elektronik yang tidak terlihat,

Tayang:
Editor: iswidodo
Tribunnews.com/Tribun Jateng/dok pribadi
Oleh Arvia Dwi Royani Statistisi di BPS Kabupaten Sumenep  Mahasiswa Master of Business Administration UGM 

Beli Iphone Baru Dilema antara Gengsi dan Merawat Bumi
Oleh Arvia Dwi Royani
Statistisi di BPS Kabupaten Sumenep 
Mahasiswa Master of Business Administration UGM

SEJAK Iphone membuka pemesanan untuk Iphone 17 Series September lalu, banyak video yang beredar menampilkan pemandangan yang nyaris sama dengan setiap kali penjualan perdana iPhone
Yakni antrean panjang dan mengular di depan Apple Store maupun toko resmi mitra Apple, video unboxing yang membanjiri media sosial, dan euforia kolektif untuk menjadi yang pertama memiliki produk tersebut. Mereka rela menunggu berjam-jam demi menjadi yang pertama menggenggam iPhone terbaru. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gong Sun, et al (2020), beberapa alasan konsumen ingin memiliki produk yang didirikan oleh Steve Jobs ini karena adanya kepekaan terhadap norma sosial dan takut kehilangan muka (attention to social comparison information), adanya kebutuhan untuk tampil beda dan menonjol (Need for uniqueness), dan adanya kesadaran akan kualitas produk terbaik (Quality Consciousness). 

Namun, di balik kemilau desain premiumnya. iPhone dan ponsel lainnya menggunakan hasil tambang sebagai bahan dasarnya, seperti titanium yang diganti menjadi aluminium untuk iPhone 17 series ini, kobalt, emas, dan litium. Kebanyakan produk Apple menggunakan hasil tambang dari Republik Demokratik Kongo. 

Kongo memang dikenal sebagai negara penghasil utama untuk bahan tambang yang banyak dipakai di komputer dan ponsel. Namun, sangat disayangkan, di sana buruh dibayar dengan upah yang tidak layak. Selain itu, pada Desember 2024, muncul gugatan dari pemerintah Kongo kepada Apple. 
Kongo menuduh raksasa teknologi Amerika itu mendapatkan mineral Kongo yang ditambang secara ilegal dari timur Republik Demokratik Kongo dan menyelundupkannya melalui Rwanda dengan bantuan kelompok pemberontak M23. Selama bertahun-tahun mineral Kongo telah diekspor secara ilegal ke seluruh dunia melalui negara tetangga Rwanda. 

Hal ini tentu merugikan masyarakat Kongo dan menguntungkan kelompok bersenjata tersebut. Pemerintah Kongo mengklaim bahwa semua orang tahu akan hal ini, terutama perusahaan teknologi yang mengandalkan mineral untuk operasi mereka, namun mereka semua menutup mata.

Padahal, saat ini kepedulian untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sudah meningkat dengan semakin banyaknya kampanye #SaveTheEarth. Gerakan untuk menolak sedotan plastik dan membawa tas belanja sendiri telah menjadi tren gaya hidup yang positif. 

Namun, masih belum banyak yang menyadari bahwa membeli ponsel terbaru artinya kita juga turut berkontribusi dalam menambah tumpukan limbah elektronik yang tidak terlihat, gunung masalah lingkungan dan kemanusiaan yang jauh lebih besar dan lebih beracun daripada sekantong limbah plastik. 

Ponsel Bekas

Saat kita sibuk ingin tampil keren dengan ponsel terbaru, kita mungkin sedang mengorbankan tanggung jawab kita pada bumi dan sosial. Kita sebagai pembeli menjadi serba salah. Pilihannya bukan lagi sekadar beli atau tidak, melainkan jenis konsumsi seperti apa yang harus kita pilih? 

Apakah kita akan terus mengikuti tren ponsel terbaru, yang kita tahu di baliknya ada masalah rantai pasok dan kerusakan alam? Atau, kita memilih untuk lebih bijak dengan membeli ponsel bekas? Dengan memilih untuk membeli ponsel bekas, kita tidak hanya turut memperpanjang umur produk dan mengurangi limbah, tetapi juga melawan siklus produksi yang rakus akan sumber daya alam. 

Menurut Kirchherr, et al (2017), berbeda dengan ekonomi linier yang mengambil bahan dari bumi, membuat produk darinya, dan akhirnya membuangnya sebagai limbah, ekonomi sirkuler justru sebaliknya, kita menghentikan produksi limbah sejak awal. Ada tiga prinsip yang digunakan dalam ekonomi sirkuler, yaitu menghilangkan limbah dan polusi, yakni produk yang sudah tidak terpakai bisa digunakan kembali, diperbaiki, diperbarui, diproduksi ulang, dan didaur ulang.  

Yang kedua adalah mengedarkan produk dan bahan dengan menjaganya tetap digunakan. Dan yang terakhir adalah meregenerasi alam, ekonomi sirkuler mengalihkan fokus dari mengekstraksi alam menjadi meregenerasi alam. 

Menilai dilema antara membeli iPhone terbaru dan kepedulian terhadap lingkungan dapat kita lihat dari tiga perspektif. Pertama kita coba menilai melalui kacamata utilitarianisme. Teori yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill ini menganggap etis tidaknya suatu tindakan berdasarkan pada konsekuensi terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Artinya semakin banyak orang senang maka semakin baik sebuah tindakan dan jika banyak yang sengsara maka tindakan tersebut adalah tindakan yang tidak etis. 

Membeli iPhone terbaru tentu memberi kebahagiaan yang besar, namun hanya untuk segelintir orang saja, yaitu individu yang membeli produk tersebut dan juga perusahaan yang mendapatkan keuntungan. Namun, kebahagiaan sesaat yang dirasakan oleh segelintir individu ini sangat tidak sebanding dengan penderitaan besar yang muncul di baliknya. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved