Readers Note
Anggit Grahito: Mencabut Dosen dari Menara Gading
Mereka adalah individu-individu dengan tingkat pendidikan tertinggi, pemegang gelar doktor dan magister
Mencabut Dosen dari Menara Gading
Oleh DR Anggit Grahito Wicaksono, SPd, MPd
Dosen Universitas Slamet Riyadi Surakarta
HIRUK-pikuk politik tahunan dan gejolak ekonomi global yang tak menentu membuat Indonesia seperti tersengal mengejar ketertinggalan. Kita berbicara tentang bonus demografi dan Indonesia Emas 2045, namun realitas masih jauh panggang dari api.
Tahukah Anda, berdasarkan Global Innovation Index 2024, peringkat Indonesia justru turun? Rasio peneliti per satu juta penduduk kita masih di bawah 1.000, sementara Malaysia di atas 2.000 dan Singapura di atas 7.000. Data ini bukan sekadar angka statistik. Ia cermin pahit keterpurukan ekosistem riset kita. Angka pengangguran terdidik menggunung, ketimpangan infrastruktur riset masih terasa, industrialisasi tersendat karena ketergantungan pada teknologi asing.
Inilah letak ironi. Negeri ini memiliki lebih dari 300.000 dosen yang tersebar di ribuan perguruan tinggi. Mereka adalah individu-individu dengan tingkat pendidikan tertinggi, pemegang gelar doktor dan magister, yang sehari-harinya bergelut dengan ilmu pengetahuan. Namun, seberapa besar kontribusi riset mereka terasa dalam denyut nadi pembangunan? Apakah kita sudah keluar dari zona nyaman "menara gading" dan turun ke "gardu terdepan" pemecahan masalah bangsa?
Pemenuhan Kebutuhan Bangsa
Mari jujur. Selama bertahun-tahun budaya akademik kita diwarnai ritual administratif: mengejar sertifikasi, menumpuk angka kredit, dan berburu publikasi di jurnal internasional. Publikasi memang napas ilmu pengetahuan, tetapi jika riset hanya berakhir sebagai teks akademik yang tak terbaca birokrat, tak teruji industri, dan tak terasa masyarakat, maka ia hanya monumen kesombongan intelektual.
Riset dosen itu seperti pohon. Jika akarnya hanya kuat di perpustakaan, ia mungkin tumbuh tinggi menjulang, tetapi mudah tumbang diterpa angin perubahan. Namun, jika akarnya menjalar ke industri, ke desa-desa, ke pabrik-pabrik, ke komunitas nelayan dan petani, maka ia akan menjadi beringin yang rindang dan kokoh.
Kita perlu revolusi cara pandang. Di era Presiden Prabowo yang menggaungkan swasembada pangan, energi, dan hilirisasi industri, di mana posisi dosen? Bukankah seharusnya para peneliti pertanian di IPB atau Universitas Brawijaya sibuk meriset bibit unggul yang tahan perubahan iklim? Bukankah seharusnya para ahli teknik di ITB atau ITS sibuk merancang teknologi pengolahan mineral mentah agar kita tak lagi sekadar mengekspor bahan baku? Inilah saatnya riset dosen diorientasikan untuk menjawab grand challenges bangsa.
Kabar baiknya, kita tidak lagi berjalan sendiri. Konsep kolaborasi pentahelix yang melibatkan akademisi, pemerintah, industri, komunitas, dan media mulai menunjukkan geliat nyata. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) di bawah kepemimpinan Brian Yuliarto terus mendorong hilirisasi riset. Produk riset tidak boleh berhenti sebagai prototipe di meja laboratorium, tetapi harus naik kelas menjadi produk inovasi yang bisa dipasarkan atau diterapkan menjadi kebijakan publik.
Saya melihat optimisme itu dari generasi muda. Mahasiswa bimbingan saya kini mulai berpikir untuk membuat start-up berbasis riset. Mereka tidak lagi puas hanya membuat laporan skripsi yang berdebu. Mereka ingin membuat aplikasi deteksi dini stunting berbasis kecerdasan buatan, atau menciptakan alat pengolahan limbah pertanian menjadi energi alternatif. Dosen harus menjadi fasilitator utama bagi energi kreatif ini.
Contoh nyata datang dari berbagai kampus. Di Universitas Gadjah Mada, riset pengembangan vaksin berbasis CRISPR tak hanya menghasilkan jurnal bergengsi, tetapi juga menarik minat industri farmasi untuk produksi massal. Di Universitas Hasanuddin, dosen kelautan berkolaborasi dengan nelayan lokal dan KKP mengembangkan alat tangkap ramah lingkungan yang justru meningkatkan hasil tangkapan.
Ekosistem dan Iklim Akademik
Tentu perubahan paradigma tak instan. Ada pekerjaan rumah besar: Pertama, reward system. Sistem kenaikan pangkat masih didominasi publikasi ilmiah. Kita perlu memberi bobot lebih pada paten, produk hilirisasi, kebijakan publik, atau kekayaan intelektual bernilai ekonomi. Dosen yang alatnya dipakai industri harus dihargai setara atau lebih tinggi.
Kedua, pendanaan. Riset berdampak butuh biaya besar. Skema pendanaan harus diarahkan pada kolaborasi multi-disiplin berorientasi solusi, jangan tersebar dalam proyek-proyek kecil yang parsial.
Ketiga, keberanian moral. Dosen harus berani melepas jubah nyaman di kampus, melompat ke lapangan berlumpur. Berani meninggalkan stereotip "dosen kutu buku" menjadi "dosen entrepreneur" atau "aktivis sosial". Berani menerima risiko gagal, karena riset terapan penuh lika-liku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/DR-Anggit-Grahito-Wicaksono.jpg)