Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kesehatan

Bonus Demografi Indonesia Terancam Penyakit Kritis, Kasus Meningkat 28 Persen

Namun, potensi emas tersebut terancam oleh meningkatnya risiko penyakit kritis yang justru banyak menyerang kelompok usia aktif.

Tayang:
Editor: rival al manaf
Istimewa
Peluncuran produk Perlindungan Optimal Penyakit Kritis ditujukan untuk memastikan perlindungan kesehatan sekaligus ketahanan finansial masyarakat agar peluang bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal. 

TRIBUNJATENG.COM – Indonesia diprediksi akan memasuki era bonus demografi pada 2030 hingga 2035, ketika mayoritas penduduk berada di usia produktif (15–64 tahun).

Momentum ini diyakini menjadi peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi sekaligus kesempatan individu untuk mewujudkan impian.

Namun, potensi emas tersebut terancam oleh meningkatnya risiko penyakit kritis yang justru banyak menyerang kelompok usia aktif.

Baca juga: Amy Qanita Sakit Apa? Jalani Operasi di Singapura, Raffi Ahmad Ungkap Penyakit Serius: Sudah Lama

Baca juga: Viral Tubuh Anak 3 Tahun di Sukabumi Dipenuhi Cacing, Sempat Kritis Sebelum Meninggal

Data Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan RI mencatat kasus penyakit kritis pada 2023 naik 28 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan penyakit jantung menjadi penyumbang tertinggi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman kesehatan tidak hanya menghantui kelompok usia lanjut, tetapi juga generasi produktif yang sedang berada di puncak karier.

Melihat tantangan ini, PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk (Zurich) bersama PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) meluncurkan produk Perlindungan Optimal Penyakit Kritis.

Kolaborasi tersebut ditujukan untuk memastikan perlindungan kesehatan sekaligus ketahanan finansial masyarakat agar peluang bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Di era yang dinamis ini, masyarakat usia produktif semakin rentan terhadap risiko penyakit kritis. Karena itu, Perlindungan Optimal Penyakit Kritis kami hadirkan sebagai solusi perlindungan yang komprehensif, terjangkau, dan mudah diakses,” ujar Miressa Moravia, Head of Bancassurance & Group Collaboration PT Zurich Asuransi Indonesia dalam keterangan tertulis.

Produk ini menawarkan premi mulai dari Rp250 ribu per bulan dengan manfaat perlindungan hingga Rp1 miliar untuk 34 jenis penyakit kritis, dari tahap awal hingga terminal.

Fitur tambahan mencakup deklarasi kesehatan sederhana tanpa medical check-up, manfaat konsultasi medis kedua, hingga pengembalian premi 25 persen bila tidak ada klaim dalam dua tahun.

Dari sisi perbankan, Danamon melihat perlindungan kesehatan sebagai bagian integral dari perencanaan finansial nasabah.

“Kami meyakini kebutuhan akan proteksi kesehatan adalah hal yang tak terpisahkan dari perencanaan keuangan. Dengan Zurich, kami menghadirkan solusi terintegrasi agar nasabah dapat meraih mimpi besar tanpa khawatir terhambat masalah kesehatan,” kata Ivan Jaya, Consumer Funding & Wealth Business Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

Sementara itu, figur publik Shahnaz Haque yang hadir dalam peluncuran produk ini turut menekankan pentingnya perlindungan sejak dini.

“Pengalaman pribadi saya membuka mata bahwa risiko penyakit kritis bisa datang tanpa diduga, bahkan di usia produktif. Biaya pengobatan yang besar dapat menguras emosi dan finansial. Karena itu, asuransi penyakit kritis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan,” ungkapnya.

Dengan kolaborasi ini, Zurich dan Danamon berupaya bukan hanya menghadirkan produk finansial, tetapi juga menjaga keberlangsungan mimpi generasi produktif Indonesia di tengah ancaman penyakit kritis. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved