Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

Neraca Perdagangan Jawa Tengah Desember 2024 Defisit US Dolar 384.50 Juta

Adapun sektor migas mengalami defisit sebesar US$647,12 juta, namun sebaliknya, sektor nonmigas mengalami surplus sebesar US$262,62 juta.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG/Idayatul Rohmah
Ilustrasi Kapal kargo ekspor impor 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Nilai neraca perdagangan total Jawa Tengah pada Desember 2024 mengalami defisit sebesar US$384,50 juta, yang dipicu oleh defisit pada sektor migas. Sementara sektor nonmigas mengalami surplus.

Adapun sektor migas mengalami defisit sebesar US$647,12 juta, namun sebaliknya, sektor nonmigas mengalami surplus sebesar US$262,62 juta.

"Ini secara total, tetapi, dominasi kita kan nonmigas, kalau kita lihat neraca perdagangan nonmigas, tidak pernah defisit," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah, Endang Tri Wahyuningsih pada pemaparan secara daring, Rabu (15/1/2025).

Tiga komoditas penyumbang surplus tertinggi di Jawa Tengah pada Desember 2024 adalah pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan) (HS 62), pakaian dan aksesorisnya (rajutan) (HS 61), dan alas kaki (HS 64). 

Sedangkan negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat.

Penyumbang surplus terbesar dari Amerika Serikat adalah pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan), pakaian dan aksesorisnya (rajutan), serta alas kaki. "Kalau ke China, kita lihat lebih banyak impornya," ucapnya.

Negara penyumbang surplus berikutnya adalah Jepang, dengan penyumbang terbesar surplus dari negara tersebut adalah mesin perlengkapan elektrik dan bagiannya (HS 85), pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan), dan pakaian dan aksesorisnya (rajutan).

Kemudian, Belanda menjadi negara penyumbang surplus terbesar ketiga dengan komoditas penyumbang utama alas kaki, pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan), serta perabotan, lampu, dan alat penerangan (HS 94).

Di sisi lain, penyumbang defisit terbesar adalah Tiongkok, Nigeria, dan Saudi Arabia.

Tiongkok menjadi penyumbang defisit terbesar, didominasi oleh mesin/peralatan mekanis dan bagiannya (HS 84), mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya (HS 85), serta kendaraan dan bagiannya (HS 87).

Nigeria, penyumbang defisit terbesarnya adalah bahan bakar mineral (HS 27).

Sedangkan Saudi Arabia, penyumbang defisit terbesarnya adalah bahan bakar mineral (HS 27), plastik dan barang dari plastik (HS 39), serta buah-buahan (HS 08).

Sementara itu, dia menambahkan, surplus neraca perdagangan barang nonmigas tahun 2024 jika dilihat sepanjang lima tahun terakhir tercatat cukup tinggi.

Tahun 2020, saat pandemi Covid-19, mengalami surplus sebesar US$1.139,25 juta. Kemudian, tahun 2021 sebesar US$2.953,22 juta, tahun 2022 mencapai US$3.602,67 juta.

"Kemudian tahun 2023 turun (tercatat US$2.405,78 juta) dan sekarang mulai naik lagi," sebutnya. 

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved