Selasa, 5 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Regional

Dijemput Teman Malam-Malam, Pelajar Dianiaya Segerombolan Orang di Lapangan hingga Tewas

Seorang pelajar asal Kalurahan Triharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, tewas setelah menjadi korban pengeroyokan.

Tayang:
Penulis: Sof | Editor: M Syofri Kurniawan
Tribun Jogja
PELAJAR TEWAS DIANIAYA: Pelayat melakukan salat jenazah Ilham Dwi Saputra (16), korban penganiayaan asal Kalurahan Triharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Senin (20/4/2026). (Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana) 

Namun nahas, korban ternyata langsung dipukul oleh gerombolan orang tersebut. Pemukulan dilakukan menggunakan selang, paralon, hingga gunting.

Mirisnya lagi, korban sempat disundut rokok dan digilas pakai sepeda motor berulang kali.

"Pada akhirnya, ketika sudah tidak sadar. Anak saya mau dipotong telinganya. Kebetulan, gunting itu disahut sama teman anak saya yang tadi buntutin," urainya.

Setelah tahu korban dalam keadaan tidak sadar alias pingsan, gerombolan orang tersebut langsung bubar.

Rekan korban atau kakak kelas korban bergegas membawa korban ke Rumah Sakit Saras Adyatma.

"Anak saya dirawat di rumah sakit itu selama dua hari. Itu tidak ada perkembangan, padahal biayanya mahal. Per hari bisa sampai Rp10 juta. Dan dikarenakan tidak ada perkembangan, terus dipindah ke Rumah Sakit PKU Jogja," katanya.

Korban dirawat di Rumah Sakit PKU Jogja sejak Kamis (16/4/2026) malam hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (19/4/2026) pukul 21.30 WIB.

Korban ternyata mengalami luka cukup parah dan berat untuk dilakukan operasi.

"Itu (korban mengalami) bengkak pada kepala, sehingga dia tidak sadarkan diri sampai meninggal belum pernah sadar. Sebentarpun belum (pernah sadar) sampai akhirnya meninggal," ucap Sugeng.

Keluarga tidak ikhlas

Kini, ia hanya bisa menaruh harapan kepada pihak kepolisian untuk turut melakukan penyelidikan dan pengungkapan kasus sampai tuntas. Pelaku diharapkan segera diproses hukum.

Menurutnya, mana ada orang tua yang ikhlas ketika anaknya dianiaya. Apalagi, dalam kasus ini terdapat dugaan penculikan sebelum akhirnya dilakukan penganiayaan berencana sampai meninggal dunia.

"Mana ada orang tua yang ikhlas seperti itu. Kalau benar-benar takdir Allah, ya insya Allah semua bisa dikembalikan dengan iklas. Akan tetapi, ini dianiaya bahkan melebihi Partai Komunis Indonesia," ucapnya.

Di sisi lain, hampir setengah tahun ini korban jarang keluar malam-malam. Apabila berada di luar hingga pukul 21.00 WIB sampai 21.30 WIB, Sugeng selalu langsung menghubungi korban dan meminta agar segera pulang.

Korban sendiri merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Korban juga disebut jarang membawa sepeda motor, sehingga kerap membonceng rekannya ketika pulang pergi sekolah. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved