Nilai Tukar Rupiah Anjlok
Nilai Tukar Rupiah Jadi Rp 17.677 per Dollar AS, Pemerintah Perkuat Early Warning System Perbankan
Menghadapi nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap Dollar Amerika Serikat, Pemerintah Indonesia memperkuat early warning system.
Penulis: Val | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menghadapi nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap Dollar Amerika Serikat, Pemerintah Indonesia memperkuat early warning system guna memastikan persoalan di sektor perbankan tidak berkembang menjadi risiko sistemik.
Hingga Kamis, 21 Mei 2025, nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS berada di angka Rp 17.677.
Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Doddy Zulverdi, menyebut pihaknya bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Kementerian Keuangan yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus memperkuat early warning system guna memastikan persoalan di sektor perbankan tidak berkembang menjadi risiko sistemik.
Baca juga: Pilu Siswa SD di Demak, Belajar di Kolong Bangunan Karena Sekolah Terendam Rob
Baca juga: Tinggalkan Mahar Honda PCX, Mempelai Wanita Diduga Kabur dengan Pria Lain di Pati
“LPS juga akan mengoptimalkan pengelolaan dana penjaminan serta menjaga likuiditas agar tekanan terhadap sektor perbankan tidak membesar,” ucapnya seusai menghadiri Seminar Nasional Perekonomian Jawa Tengah di gedung LPPM Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (21/5/2026).
Pihaknya melakukan berbagai langkah mitigasi risiko, terutama dampak eksternal akibat konflik global yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah maupun likuiditas perbankan.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, LPS terus menjalankan sejumlah langkah strategis.
Salah satunya dengan melakukan evaluasi berkala terhadap Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS agar nasabah tetap terlindungi dan bank tidak terjebak persaingan suku bunga yang tidak sehat.
Doddy menjelaskan di tengah tekanan eksternal tersebut, kinerja ekonomi nasional justru masih menunjukkan tren positif.
Sebagai contoh ia menyebut, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I tahun 2026 masih mampu mencapai 5,61 persen.
“Pertumbuhan ini melebihi ekspektasi dan ditopang oleh membaiknya konsumsi rumah tangga sebesar 5,52 persen secara year on year serta tingginya pertumbuhan belanja pemerintah mencapai 21,81 persen,” ujarnya.
Lebih lanjut, Doddy menambahkan, sektor perbankan nasional hingga kini juga tetap resilien menghadapi tekanan global.
Hal itu tercermin dari pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang mendekati 10 persen.
“Per April 2026, kredit perbankan tumbuh 9,98 persen, meningkat dibanding Maret 2026 yang sebesar 9,49 persen,” katanya.
Dari data-data tersebut ia merasa hingga saat ini stabilitas sektor keuangan dan perbankan Indonesia masih terjaga.
Meski demikian LPS juga akan terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait syarat penjaminan simpanan.
Salah satunya melalui penyelenggaraan Finance Festival yang rutin digelar sejak 2025 serta berbagai kegiatan sosialisasi lainnya. (Franciskus Ariel)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-uang-rupiah-Rp-50000-dan-Rp-100000.jpg)