Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Longsor Jepara

Penampakan Akses Jalan ke Desa Tempur Jepara yang Mulai Terbuka, Masih Berisiko

Suara deru motor bertaut debur air sungai di lereng Gunung Muria menyapa para relawan bencana alam di Desa Tempur.

Tayang:
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/SAIFUL MA'SUM
LEWAT JALUR DARURAT - Warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara berbondong-bondong mengendarai sepeda motor melintasi jalan darurat keluar desa, Selasa (13/1/2026). Mereka kini sudah bisa ke luar desa setelah terisolir selama 4 hari.  

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Suara deru motor bertaut debur air sungai di lereng Gunung Muria menyapa para relawan bencana alam di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Selasa (13/1/2026).

Akses jalan satu-satunya menuju desa tertinggi di Kabupaten Jepara tersebut sempat terisolir dalam beberapa hari dampak bencana banjir dan tanah longsor yang menghilangkan badan jalan sepanjang 60 meter.

Jalan yang hilang sebelumnya hanya menyisakan jalan setapak mepet dengan tebing dan hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.

Medan yang licin dengan curah hujan tinggi dan debit air sungai yang cukup deras sejak, Jumat (9/1/2026) memukul mundur relawan untuk menambal sulam badan jalan yang hilang. Belum lagi puluhan titik longsor menyeret material tanah, batu, dan pepohonan memutus akses jalan.

Praktis sebanyak 3.522 jiwa dari 1.445 KK penduduk Desa Tempur terisolasi di desanya sendiri. Mereka dipaksa untuk bersahabat dengan kegelapan tanpa aliran listrik yang terputus, akses internet hilang, dan makan dengan bahan-bahan seadanya untuk bertahan.

Tak ada posko bencana di dalam Desa Tempur, semua warga membuka mata hingga terpejam kembali di rumah masing-masing.

Bagi warga dengan tingkat perekonomian pas-pasan mengandalkan bantuan bahan makanan untuk bertahan selama terjebak di kampung halaman sendiri.

Di siang hari, warga tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti sedia kala. Ada yang bertani, berkebun, dan kesibukan lain yang bisa dikerjakan di dalam desa.

Sementara warga yang memiliki pekerjaan dan harus dilakukan di luar desa terpaksa meliburkan diri tanpa adanya akses jalan, termasuk pendidikan SMP dan SMA sederajat bagi anak-anak Desa Tempur.

Beberapa potret kondisi tersebut diceritakan Muslikhan (52), satu di antara warga Tempur yang ikut serta terisolasi di kampung sendiri.

Kata dia, hujan hampir tidak pernah berhenti selama Desa Tempur terisolasi selama empat hari terakhir.

Masyarakat tidak merasakan panas matahari, yang ada hanya dinginnya buliran air hujan yang jatuh mengguyur kawasan lereng Gunung Muria.

"Alhamdulillah, empat hari lega bisa keluar kampung. Sejak Jumat (malam) enggak bisa keluar," terangnya di lokasi jalan terputus setelah pertigaan Selamat Datang Desa Wisata Desa Tempur.

Dengan raut wajah cukup ceria, Muslikhan mengendarai sepeda motor bebeknya melintasi jalan setapak sepanjang 60 meter yang dibangun darurat oleh para relawan.

Jalan tersebut pada awalnya hanya bisa dilalui dengan jalan kaki, kemudian tebing di sebelahnya sebagian dipangkas oleh relawan untuk memperlebar jalan agar bisa dilalui sepeda motor.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved