Jumat, 12 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Readers Note

Hilirisasi Riset Pendidikan: Turun dari Menara Gading

Sebagai seorang periset, lega rasanya mendengar hal tersebut ditegaskan dalam orasi pembuka di depan media. Mengapa saya begitu lega?

Tayang:
Editor: iswidodo
Tribun Jateng/dok pribadi
DR Janu Arlinwibowo, MPd. Periset Pusat Riset Pendidikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 

Hilirisasi Riset Pendidikan: Turun dari Menara Gading
oleh DR Janu Arlinwibowo, MPd.
Periset Pusat Riset Pendidikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

SENANG sekali mendengar kata “riset berdampak”. Prof. Arif Satria, secara lugas dalam konferensi pers pertamanya setelah pelantikan menegaskan hasil riset harus berdampak pada masyarakat. 

Sebagai seorang periset, lega rasanya mendengar hal tersebut ditegaskan dalam orasi pembuka di depan media. Mengapa saya begitu lega? Karena memang selama ini ada kegelisahan terkait dengan “dampak” riset yang terus menerus saya lakukan sebagai seorang periset.  

Sebelumnya, domain diskusi yang akan saya luapkan dalam tulisan ini adalah riset di bidang pendidikan, sesuai dengan hal yang telah saya geluti sekian tahun. Kegelisahan yang saya rasakan seperti terkait satu sama lain. Sayangnya, semakin lama “dampak” yang menjadi prioritas semakin kabur. Kesibukan untuk mengejar angka dan indeks membuyarkan makna riset yang sesungguhnya.

Salah Prioritas

Beberapa tahun terakhir ini, lembaga pengindeks global seperti Scopus sukses bersolek dan mendapatkan citra sangat positif di Indonesia. Hasil riset yang dapat dipublikasikan di jurnal yang terindeks Scopus dianggap sebagai karya monumental bagi seorang periset dan akademisi. H-indeks Scopus menjadi tolok ukur untuk menilai “kualitas”. Lama kelamaan, portofolio periset dan akademisi di lembaga pengindeks tersebut menjadi syarat administrasi banyak hal karena dianggap merepresentasikan diri secara lebih riil. Apakah salah? Tidak juga.

Lalu masalahnya di mana? Letak masalahnya adalah publikasi di jurnal terindeks Scopus ini menjadi prioritas utama bagi periset maupun akademisi. Perlahan tapi pasti, riset bukan lagi menjadi ruh utama dalam naskah hasil riset. Saat ini, hal utama adalah publikasi. Banyak sekali orang yang tidak peduli proses riset, yang penting namanya tercantum dalam naskah hasil riset dan namanya tercatat di scopus.com. 

Sering kami perdebatkan di dalam diskusi, saat ini periset (orang yang meneliti) telah banyak bertransformasi menjadi penerbit (orang yang menerbitkan). Dunia riset ini semakin tidak karuan saat kita mengenal istilah “sharing dana”. Biaya publikasi yang besar untuk banyak jurnal yang dianggap bereputasi membuat orang tertarik untuk “patungan” biaya publikasi. 

Ya, mau bagaimana lagi, periset aslinya tidak cukup punya dana untuk menerbitkan artikel di jurnal terindeks Scopus. Fenomena tersebut sudah sangat memprihatinkan tanpa harus ditambah dengan berapa rupiah yang kita setor ke luar negeri.

Jurnal Gratis

Katakanlah pada subdiskusi ini membicarakan periset dan akademisi lebih baik yaitu melakukan riset dan mempublikasikan di jurnal terindeks Scopus yang gratis. Kondisi demikian, di bidang pendidikan, masih perlu dicermati, apakah informasi hasil risetnya sudah tepat sasaran? Mari kita diskusikan alur pemanfaatan hasil riset bidang pendidikan secara ringkas yaitu masalah pendidikan yang dialami praktisi, dipecahkan oleh periset, lalu diinformasikan ke praktisi. 

Pertanyaan yang muncul adalah siapakah praktisi pendidikan di Indonesia? Mereka adalah guru, manajemen sekolah, dan pemangku kebijakan. Populasi terbesar adalah guru dan manajemen sekolah. Pertanyaan muncul kembali, apakah mereka akan membaca hasil riset yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris di jurnal terindeks Scopus? Dugaan saya kemungkinannya kecil. 

Informasi yang disampaikan dalam Bahasa Indonesia saja belum tentu terbaca. Saya merasa prihatin terhadap upaya kita mempublikasikan temuan yang sia-sia jika tidak terakses oleh segmen yang sesungguhnya. Kapan pendidikan bangsa ini akan maju? Kapan masalah pendidikan bangsa selesai jika gagahnya nama periset di scopus.com ternyata hanya gagah-gagahan saja?

Menara Gading

Masalah prioritas dan sasaran riset ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari sistem kerja riset yang menempatkan periset di menara gading, terpisah dari ruang di mana seharusnya hasil riset memberi dampak. Contohnya, periset itu pekerjaannya adalah menghasilkan ilmu pengetahuan dalam berbagai media. Bagaimana jika periset di bidang pendidikan mengajar di sekolah? Dengan mengacu pada sistem saat ini pasti akan menjadi perdebatan. Padahal mengajar di sekolah adalah proses periset untuk memahami subjek riset. 

Bagaimana mungkin seorang periset dapat menyimpulkan fenomena di kelas tanpa pernah punya pengalaman mengelola kelas? Situasi demikian membuat temuan riset seringkali prematur dan tidak mendalam. 

Kondisi demikian juga membuat gap antara periset dan subjek riset. Periset sering dianggap sebagai orang hanya mengerti teori saja tanpa memahami situasi di lapangan. Imbasnya, praktisi pendidikan sering tidak antusias membaca hasil riset yang dilakukan periset. Bahkan saya sendiri terkadang merasa sangat arogan karena hanya 5 hari observasi lalu merasa dapat menyimpulkan berbagai hal yang ada di lokasi riset.

Selanjutnya, menara gading yang ditimbulkan oleh program riset. Saya menemukan dikotomi antara program riset dan program implementasi hasil riset dengan berbagai istilah. Kita sering mendengar dikotomi antara riset dengan pengabdian masyarakat. Tidak jarang pula mendengar bahwa riset itu adalah produksi ilmu pengetahuan. 

Sistem pengelolaan demikian membuat batas-batas yang mengganjal distribusi hasil riset sampai pada sasaran. Sempit sekali jika riset berdiri sendiri tanpa terintegrasi dengan pengabdian, kaku sekali jika riset hanya memproduksi ilmu pengetahuan. 

Pemilah-milahan tersebut membuat proses riset kadang terputus atau jika terselesaikan maka distribusinya mandeg. Hingga saat ini, luaran program riset utamanya adalah artikel yang terbit di jurnal atau hak karya intelektual. Saya jarang (atau mungkin belum pernah) ditanya berapa guru dan murid yang telah dimudahkan oleh temuan risetmu.

Luwes untuk Hilirisasi

Program riset di Indonesia perlu dikembalikan pada urgensi utama yaitu riset sebagai proses menyelesaikan masalah bangsa. Membuat sistem kerja semakin luwes dan saling terintegrasi antara riset dan distribusi hasil riset menjadi satu peluang untuk membuat hilirisasi hasil riset (berdampak). Jangan sampai periset, program riset, dan hasil riset terisolir sehingga hanya membuahkan seonggok manuscrip yang tidak memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat. 

Momentum saat ini rasanya sangat tepat untuk membuat riset bidang pendidikan menjadi lebih berdampak. BRIN sebagai lembaga riset harus membangun kerjasama serius dengan lembaga lain mulai dari kementarian hingga level sekolah. Antar lembaga tersebut perlu merumuskan program memasyarakatkan periset dan hasil riset. 

Memasyarakatkan periset dengan mendekatkan mereka ke sekolah untuk ikut serta masuk dalam ekosistemnya. Periset pendidikan tidak bisa di kantor terus, mayoritas waktu harus ada di sekolah, perguruan tinggi, maupun berbagai instansi pendidikan sebagai laboratorium. Dengan demikian maka perisetnya akan semakin kompeten dan hasil risetnya akan semakin tersebar luas. 
Menolong satu murid untuk lebih mudah belajar jauh lebih bermanfaat dibanding mempublikasikan hasil riset di Jurnal Internasional terindeks Scopus Q1. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved