Readers Note
Hilirisasi Riset Pendidikan: Turun dari Menara Gading
Sebagai seorang periset, lega rasanya mendengar hal tersebut ditegaskan dalam orasi pembuka di depan media. Mengapa saya begitu lega?
Hilirisasi Riset Pendidikan: Turun dari Menara Gading
oleh DR Janu Arlinwibowo, MPd.
Periset Pusat Riset Pendidikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
SENANG sekali mendengar kata “riset berdampak”. Prof. Arif Satria, secara lugas dalam konferensi pers pertamanya setelah pelantikan menegaskan hasil riset harus berdampak pada masyarakat.
Sebagai seorang periset, lega rasanya mendengar hal tersebut ditegaskan dalam orasi pembuka di depan media. Mengapa saya begitu lega? Karena memang selama ini ada kegelisahan terkait dengan “dampak” riset yang terus menerus saya lakukan sebagai seorang periset.
Sebelumnya, domain diskusi yang akan saya luapkan dalam tulisan ini adalah riset di bidang pendidikan, sesuai dengan hal yang telah saya geluti sekian tahun. Kegelisahan yang saya rasakan seperti terkait satu sama lain. Sayangnya, semakin lama “dampak” yang menjadi prioritas semakin kabur. Kesibukan untuk mengejar angka dan indeks membuyarkan makna riset yang sesungguhnya.
Salah Prioritas
Beberapa tahun terakhir ini, lembaga pengindeks global seperti Scopus sukses bersolek dan mendapatkan citra sangat positif di Indonesia. Hasil riset yang dapat dipublikasikan di jurnal yang terindeks Scopus dianggap sebagai karya monumental bagi seorang periset dan akademisi. H-indeks Scopus menjadi tolok ukur untuk menilai “kualitas”. Lama kelamaan, portofolio periset dan akademisi di lembaga pengindeks tersebut menjadi syarat administrasi banyak hal karena dianggap merepresentasikan diri secara lebih riil. Apakah salah? Tidak juga.
Lalu masalahnya di mana? Letak masalahnya adalah publikasi di jurnal terindeks Scopus ini menjadi prioritas utama bagi periset maupun akademisi. Perlahan tapi pasti, riset bukan lagi menjadi ruh utama dalam naskah hasil riset. Saat ini, hal utama adalah publikasi. Banyak sekali orang yang tidak peduli proses riset, yang penting namanya tercantum dalam naskah hasil riset dan namanya tercatat di scopus.com.
Sering kami perdebatkan di dalam diskusi, saat ini periset (orang yang meneliti) telah banyak bertransformasi menjadi penerbit (orang yang menerbitkan). Dunia riset ini semakin tidak karuan saat kita mengenal istilah “sharing dana”. Biaya publikasi yang besar untuk banyak jurnal yang dianggap bereputasi membuat orang tertarik untuk “patungan” biaya publikasi.
Ya, mau bagaimana lagi, periset aslinya tidak cukup punya dana untuk menerbitkan artikel di jurnal terindeks Scopus. Fenomena tersebut sudah sangat memprihatinkan tanpa harus ditambah dengan berapa rupiah yang kita setor ke luar negeri.
Jurnal Gratis
Katakanlah pada subdiskusi ini membicarakan periset dan akademisi lebih baik yaitu melakukan riset dan mempublikasikan di jurnal terindeks Scopus yang gratis. Kondisi demikian, di bidang pendidikan, masih perlu dicermati, apakah informasi hasil risetnya sudah tepat sasaran? Mari kita diskusikan alur pemanfaatan hasil riset bidang pendidikan secara ringkas yaitu masalah pendidikan yang dialami praktisi, dipecahkan oleh periset, lalu diinformasikan ke praktisi.
Pertanyaan yang muncul adalah siapakah praktisi pendidikan di Indonesia? Mereka adalah guru, manajemen sekolah, dan pemangku kebijakan. Populasi terbesar adalah guru dan manajemen sekolah. Pertanyaan muncul kembali, apakah mereka akan membaca hasil riset yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris di jurnal terindeks Scopus? Dugaan saya kemungkinannya kecil.
Informasi yang disampaikan dalam Bahasa Indonesia saja belum tentu terbaca. Saya merasa prihatin terhadap upaya kita mempublikasikan temuan yang sia-sia jika tidak terakses oleh segmen yang sesungguhnya. Kapan pendidikan bangsa ini akan maju? Kapan masalah pendidikan bangsa selesai jika gagahnya nama periset di scopus.com ternyata hanya gagah-gagahan saja?
Menara Gading
Masalah prioritas dan sasaran riset ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari sistem kerja riset yang menempatkan periset di menara gading, terpisah dari ruang di mana seharusnya hasil riset memberi dampak. Contohnya, periset itu pekerjaannya adalah menghasilkan ilmu pengetahuan dalam berbagai media. Bagaimana jika periset di bidang pendidikan mengajar di sekolah? Dengan mengacu pada sistem saat ini pasti akan menjadi perdebatan. Padahal mengajar di sekolah adalah proses periset untuk memahami subjek riset.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/DR-Janu-Arlinwibowo.jpg)