UIN SAIZU Purwokerto
Guru Besar UIN Saizu Beberkan Transformasi Pendidikan Dasar dan Menengah dari Perspektif Keislaman
Guru Besar UIN Saizu Purwokerto Prof. M. Nur Kholis Setiawan membeberkan mengenai transformasi pendidikan dasar dan menengah dari perspektif keislaman
Penulis: Adi Tri | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO- Upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045 terus diperkuat dengan berbagai gagasan dan refleksi akademik mengenai arah pendidikan nasional.
Guru Besar UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. M. Nur Kholis Setiawan membeberkan mengenai transformasi pendidikan dasar dan menengah dari perspektif keislaman, guna mendorong SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam Seminar Nasional “Transformasi Pendidikan Dasar dan Menengah untuk Mendukung Visi Indonesia Emas 2045 dalam Program Asta Cita Presiden RI” Prof. Nur Kholis memaparkan gagasan strategis mengenai transformasi pendidikan berlandaskan nilai-nilai Islam dan relevansi kebutuhan abad ke-21.
Seminar nasional tersebut diselenggarakan Mubarok Institute bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan UIN Saizu Purwokerto, di Auditorium Kampus UIN Saizu Purwokerto, pada Selasa (9/12/2025).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan akademik terhadap program Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta upaya mendorong kualitas SDM di era digital yang semakin kompetitif.
Dalam paparannya, Prof. Nur Kholis menjelaskan 12 kecakapan mendasar abad 21 yang wajib dimiliki peserta didik agar mampu bersaing secara global. Keterampilan tersebut meliputi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, literasi informasi, media, teknologi, hingga kepemimpinan dan fleksibilitas.
Menurutnya, dominasi teknologi, arus informasi, dan kompleksitas sosial menuntut pendidikan untuk lebih adaptif. “Peserta didik tidak cukup hanya menguasai konten pelajaran, tetapi juga keterampilan hidup dan literasi digital yang memadai,” jelasnya.
Prof. Nur Kholis mengupas Paradoks Indonesia sebagaimana dipahami melalui gagasan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut bahwa berbagai tantangan nasional seperti ketimpangan ekonomi, kualitas SDM, hingga pembangunan desa harus dijawab dengan kesadaran nasional dan perencanaan strategis menuju 100 tahun Indonesia merdeka.
Dalam konteks pendidikan, beberapa poin Asta Cita dinilai memiliki relevansi kuat, antara lain:
1. Penguatan ideologi Pancasila, demokrasi dan HAM
2. Kesetaraan gender dan peningkatan peran pemuda serta penyandang disabilitas
3. Hilirisasi SDA dan industrialisasi yang membutuhkan SDM terdidik
4. Pembangunan berbasis desa untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan
“Pemuda terdidik adalah aktor utama dalam seluruh agenda pembangunan,” tegasnya.
Dalam perspektif keislaman, Prof. Nur Kholis mengajak pendidik kembali pada ruh kearifan para ulama seperti K.H. Hasyim Asy’ari, Abu Bakar Syatha’, Nawawi al-Bantani, hingga Zakariya al-Ansari. Referensi tokoh-tokoh ini menegaskan pentingnya adab belajar, kebijaksanaan, dan integritas moral dalam pendidikan.
Dia menekankan bahwa:
1. Dunia pendidikan tidak mengenal kebenaran tunggal, sehingga pendidik harus lapang hati menghadapi perbedaan pendapat.
2. Pendidik perlu kreatif, produktif, dan terus meningkatkan kompetensi diri.
3. Ilmu tidak boleh dijadikan alat untuk mengejar kepentingan duniawi semata..
“Pendidik harus menjaga marwahnya. Integritas adalah syarat utama dalam membentuk karakter generasi muda,” ujarnya.
Dalam bagian lain, Prof. Nur Kholis mengutip pandangan ulama klasik yang mengingatkan bahwa kehidupan adalah perjalanan mencari pengetahuan, kebahagiaan, kearifan, dan kesejatian. Oleh sebab itu, dunia pendidikan meniscayakan tiga kewajiban belajar, mengajarkan dan meneladankan.
Ketiganya menjadi pilar utama dalam membentuk generasi beradab dan berkarakter. Menutup pemaparannya, Prof. Nur Kholis menekankan pentingnya tetap optimis menghadapi tantangan pendidikan di Indonesia. Ia mengutip ajaran Islam tentang pentingnya memaafkan, menjaga hubungan sosial, dan bersikap bijaksana dalam menghadapi perbedaan.
Menurutnya, pendidikan harus terus menjaga dialog dengan realitas sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam banyak peristiwa karena kebenaran pada dasarnya bersifat relatif dan dinamis. “Pendidikan yang terus bergerak, berdialog, dan bertransformasi adalah jalan menuju SDM unggul dan Indonesia Emas 2045,” tegasnya.(***)
| SABUDAYA Resmi Dibentuk, Kebangkitan Sastra dan Budaya Mahasiswa UIN Saizu Dimulai |
|
|---|
| Kembangkan Aplikasi Spiritual Care, Aris Fitriyani Menjadi Doktor Ke-87 Pascasarjana UIN Saizu |
|
|---|
| Menteri Agama Tegaskan Pesantren Harus Jadi Ruang Aman bagi Anak, Kekerasan Tak Boleh Ditoleransi |
|
|---|
| Hadirkan Dewan Pengawas BLU, UIN Saizu Perkuat Tata Kelola Keuangan dan Optimalisasi Layanan Kampus |
|
|---|
| Prof Ridwan: UIN Saizu Tidak Bisa Lepas dari Peran Media |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251209_gurubesar_uinsauzu.jpg)