Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Teologi Digital Wasathiyyah, Prof. Mudhofi Tawarkan Jalan Tengah Hadapi AI dan Polarisasi Keagamaan

Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengukuhkan 10 Guru Besar dalam Sidang Senat Terbuka

Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Prof. Dr. M. Mudhofi, M.Ag., Guru Besar Bidang Ilmu Kalam UIN Walisongo Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengukuhkan 10 Guru Besar dalam Sidang Senat Terbuka yang dilaksanakan pada Sabtu (14/02/2026), di Auditorium II Kampus 3, Gedung Tgk Ismail Yaqub.

Pengukuhan ini menjadi bagian dari penguatan keilmuan UIN Walisongo dalam merespons dinamika sosial, keagamaan, dan teknologi.

Salah satu guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. M. Mudhofi, M.Ag., sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kalam.

Dalam pidato akademiknya, Prof. Mudhofi mengangkat tema “Teologi Digital Wasathiyyah: Rekonfigurasi Wacana Teologi Islam dalam Lanskap Keberagamaan Baru.”

Orasi ini menyoroti perubahan mendasar relasi antara teologi Islam dan ekosistem digital yang kian kompleks.

Prof. Mudhofi menjelaskan bahwa ruang digital saat ini telah menjadi domain baru keberagamaan, di mana wacana teologi tidak hanya disampaikan melalui mimbar dan ruang akademik, tetapi juga melalui ceramah daring, kajian komunitas digital, dialog lintas iman, artikel keislaman di berbagai platform, hingga perdebatan teologis yang masif di kolom komentar media sosial.

Fenomena ini ia sebut sebagai teologi digital, sebuah istilah yang berangkat dari realitas empiris perkembangan keberagamaan di era new media.

“Teologi digital bukanlah teologi yang kosong atau kehilangan dasar-dasar keyakinan Islam. Namun, struktur ruang digital dengan logika dan dinamikanya sendiri telah mendorong penyesuaian serta pengembangan konsep-konsep dasar teologi,” jelasnya.

Dalam pidato tersebut, Prof. Mudhofi juga mengulas secara kritis relasi antara teologi dan generative AI.

Ia mengemukakan sejumlah tantangan, antara lain potensi AI dalam mereduksi kompleksitas persoalan teologis, mengaburkan otoritas keilmuan tradisional, membawa bias epistemologis berbasis data, hingga risiko dekontekstualisasi ajaran dan distorsi akidah.

Selain itu, penggunaan AI secara masif juga berpotensi mendorong konsumsi instan pengetahuan keagamaan serta memperparah polarisasi dan konflik teologis di ruang digital.

Alumni Pondok Pesantren Kalibeberi ini menyampaikan,

“AI tidak memiliki agama, identitas teologi, maupun sisi humanisme. Klaim netralitas AI sering kali bersifat semu karena algoritma bekerja dengan logika tertentu,” tegas Prof. Mudhofi.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Prof. Mudhofi menawarkan gagasan teologi digital wasathiyyah sebagai pendekatan moderat untuk merawat keberagamaan di ruang digital.

Pendekatan ini menekankan pentingnya penyajian wacana teologis yang inklusif, argumentatif, dan rasional, sekaligus menghindari perdebatan emosional yang kerap dipicu oleh budaya bebas berkomentar di media sosial.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved