Opini
Lebaran Tanpa Luka: Etika Komunikasi agar Silaturahmi Tetap Bermakna
Idulfitri selalu hadir sebagai momentum mempererat silaturahmi. Rumah-rumah kembali ramai oleh sanak saudara, tawa mengisi ruang keluarga
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Oleh: Riky Ardiyanto
Kepala Komunikasi Universitas Harkat Negeri
IDULFITRI selalu hadir sebagai momentum mempererat silaturahmi. Rumah-rumah kembali ramai oleh sanak saudara, tawa mengisi ruang keluarga, dan tangan-tangan saling berjabat memohon maaf. Namun dibalik kehangatan itu, ada satu fenomena komunikasi yang hampir selalu muncul setiap tahun: pertanyaan-pertanyaan personal seperti “kapan lulus?”, “kapan nikah?”, “kapan punya anak?”, atau “sekarang kerja di mana?”.
Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut mungkin dianggap sekadar basa-basi untuk membuka percakapan. Namun bagi sebagian lainnya, pertanyaan itu bisa terasa menekan, bahkan menyakitkan.
Dalam budaya kekeluargaan Indonesia yang kuat, percakapan personal sering dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun batas antara kepedulian dan pelanggaran privasi sering kali menjadi kabur.
Survei yang dilakukan oleh Kompas (2025) menunjukkan bahwa berkumpul bersama keluarga saat Lebaran memang menjadi momen yang paling dinantikan oleh sebagian besar masyarakat. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan personal juga sering muncul dan bahkan dianggap sebagai “teror pertanyaan” oleh sebagian generasi muda.
Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi dalam keluarga tidak selalu sederhana. Kata-kata yang dimaksudkan sebagai perhatian bisa diterima sebagai tekanan jika tidak mempertimbangkan kondisi psikologis lawan bicara.
Psikiater dr. Andreas Kurniawan menjelaskan bahwa pertanyaan seperti “kapan nikah” sering muncul bukan karena niat menyakiti, tetapi karena orang yang bertanya tidak memiliki topik lain untuk memulai percakapan.
Namun demikian, pertanyaan tersebut tetap dapat menimbulkan tekanan mental bagi orang yang sedang menghadapi persoalan hidup tertentu, seperti karier, pendidikan, atau hubungan personal.
Hal ini sejalan dengan kajian komunikasi interpersonal yang menekankan pentingnya empati dalam percakapan. Komunikasi yang sehat tidak hanya berfokus pada apa yang ingin kita tanyakan, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana pertanyaan itu akan dirasakan oleh orang lain.
Dalam kajian komunikasi interpersonal, salah satu konsep penting adalah komunikasi asertif yaitu kemampuan menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur, tegas, dan langsung, namun tetap menghormati hak serta perasaan orang lain. Komunikasi asertif memungkinkan seseorang menyampaikan pikiran dan perasaannya secara jujur tanpa menyakiti orang lain.
Dalam konteks lebaran, prinsip ini dapat diterapkan dengan dua cara, yaitu memilih topik yang aman dan inklusif, misalnya menanyakan kabar, kesehatan, atau aktivitas sehari-hari. Kemudian menghindari pertanyaan yang terlalu personal, terutama yang berkaitan dengan pencapaian hidup, status hubungan, atau kondisi ekonomi.
Penelitian Tamas David-Barrett dkk. (2015) menunjukkan bahwa hubungan sosial yang sehat terbentuk melalui komunikasi yang memperhatikan kedekatan emosional dan konteks relasi. Pola komunikasi antar individu berubah sesuai tahap kehidupan dan kedekatan hubungan mereka.
Artinya, tidak semua topik layak dibicarakan dengan semua orang, bahkan jika mereka masih dalam lingkup keluarga. Lebaran sebenarnya menawarkan ruang untuk memperkuat nilai empati dalam komunikasi. Alih-alih bertanya tentang pencapaian hidup, kita dapat membangun percakapan yang lebih hangat dan menghargai.
Beberapa contoh pertanyaan yang lebih nyaman antara lain: “Bagaimana kabarmu belakangan ini?”, “Apa kegiatan yang sedang kamu tekuni sekarang?”, “Apa rencana menarik tahun ini?”, “Bagaimana pengalamanmu tahun ini?”. Pertanyaan seperti ini membuka ruang cerita tanpa memberi tekanan.
Pada akhirnya, esensi Idulfitri bukan hanya tentang saling memaafkan, tetapi juga tentang memperbaiki cara kita berinteraksi satu sama lain. Kata-kata memiliki kekuatan yang besar: ia dapat menghangatkan hati, tetapi juga bisa melukai tanpa disadari.
Silaturahmi yang baik bukanlah yang penuh pertanyaan, melainkan yang penuh pengertian. Karena kadang, bentuk kepedulian terbaik bukanlah bertanya terlalu jauh, tetapi memberi ruang bagi orang lain untuk bercerita ketika mereka siap. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260318_Riky-Ardiyanto.jpg)