Kamis, 28 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

Belajar dari yang Viral, Cara Baru Sekolah Menggerakkan Masyarakat

Dalam lanskap pendidikan yang terus bertransformasi, kepala sekolah tidak lagi cukup berperan sebagai administrator

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Muhchamad Haris Tarmidi MPd, Kepala SDN 1 Karangmulyo Pegandon Kab Kendal, Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation 

Oleh: Muhchamad Haris Tarmidi MPd, Kepala SDN 1 Karangmulyo Pegandon Kab Kendal, Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation

DALAM lanskap pendidikan yang terus bertransformasi, kepala sekolah tidak lagi cukup berperan sebagai administrator, tetapi juga dituntut menjadi inovator yang mampu membaca dinamika sosial masyarakat. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memberikan ruang otonomi yang luas bagi sekolah untuk berkembang, termasuk dalam membangun hubungan dengan masyarakat dan memperkuat citra lembaga. Dalam konteks keterbukaan informasi, tantangan utamanya adalah bagaimana sekolah tetap relevan dan memiliki daya tarik di mata publik.

Dalam perkembangannya, MBS membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Salah satu pendekatan yang mulai relevan adalah Viral Based Learning (VBL). Pendekatan ini tidak dimaknai sebagai upaya mengejar popularitas semata, melainkan sebagai strategi untuk menciptakan pengalaman belajar yang memiliki daya tarik, berdampak luas, dan mampu menggerakkan partisipasi berbagai pihak dalam ekosistem pendidikan.

Secara konseptual, VBL merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan ketertarikan peserta didik terhadap isu-isu yang sedang berkembang di lingkungan sosial mereka. Isu tersebut kemudian dijadikan pemantik dalam proses pembelajaran agar lebih kontekstual dan bermakna. Pendekatan ini merupakan pengembangan dari prinsip Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), dengan penekanan pada relevansi sosial dan keterikatan emosional peserta didik terhadap materi yang dipelajari.

Dalam praktiknya, VBL tidak hanya diterapkan di dalam kelas, tetapi juga dapat diperluas ke ruang sosial yang lebih luas. Pembelajaran tidak lagi terbatas pada pembahasan isu yang sedang viral, melainkan juga menciptakan kegiatan yang memiliki nilai sosial dan daya sebar tinggi, kemudian menjadikannya sebagai bagian dari proses belajar. Dengan demikian, terjadi pergeseran dari sekadar konsumsi isu menjadi produksi pengalaman yang bernilai bagi masyarakat.

Salah satu contoh implementasi pendekatan ini dapat ditemukan pada praktik di tingkat sekolah dasar, di mana kegiatan karnaval tingkat kecamatan dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran kolektif. Karnaval tidak hanya diposisikan sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai media untuk membangun kreativitas, kolaborasi, dan keterlibatan masyarakat.

Pelibatan orang tua sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan menunjukkan praktik manajemen partisipatif yang sejalan dengan prinsip MBS. Orang tua tidak hanya berperan sebagai pendukung secara material, tetapi juga terlibat dalam proses ideasi dan produksi kegiatan. Hal ini mendorong terbentuknya rasa memiliki terhadap sekolah serta memperkuat hubungan antara sekolah dan masyarakat.

Dari sisi pembelajaran, keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik mengenai kerja sama, tanggung jawab, dan kontribusi sosial. Capaian yang diraih dalam kegiatan semacam ini menjadi efek lanjutan dari proses kolaboratif yang terbangun, bukan tujuan utama. Yang lebih penting adalah terbentuknya pengalaman belajar yang autentik dan bermakna.

Selain melalui kegiatan nonakademik, pendekatan VBL juga dapat diperkuat melalui pengembangan prestasi siswa secara sistematis. Partisipasi dalam berbagai ajang kejuaraan tidak hanya berfungsi sebagai sarana kompetisi, tetapi juga sebagai medium untuk membangun kepercayaan diri dan budaya berprestasi. Dalam konteks komunikasi publik, capaian-capaian tersebut dapat dikemas sebagai narasi positif yang memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.

Pemanfaatan media sosial menjadi faktor penting dalam mendukung pendekatan ini. Media sosial tidak lagi sekadar berfungsi sebagai papan pengumuman digital, tetapi sebagai ruang interaksi yang memungkinkan sekolah membangun kedekatan dengan masyarakat. Penyajian informasi secara visual dan naratif memungkinkan orang tua untuk tetap terhubung dengan aktivitas sekolah, meskipun tidak hadir secara fisik.

Dalam kerangka MBS, transparansi dan kreativitas menjadi dua elemen yang saling melengkapi. Sekolah yang mampu mengelola keduanya dengan baik akan memiliki modal sosial yang kuat. Modal sosial ini menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan sekolah, baik dari sisi fasilitas maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pada akhirnya, pendekatan Viral Based Learning menunjukkan bahwa pendidikan tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial dan perkembangan teknologi. Sekolah perlu mampu memanfaatkan fenomena tersebut secara konstruktif untuk memperkuat proses pembelajaran dan hubungan dengan masyarakat. Ketika sekolah mampu menghadirkan pengalaman belajar yang relevan, kolaboratif, dan berdampak luas, maka sekolah tersebut tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan sosial komunitasnya. (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved