Kamis, 16 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Refleksi Pengukuhan Guru Besar UIN Saizu: Ketua Senat Tegaskan Ilmu Tak Pernah Pensiun

Pengukuhan Guru Besar UIN Saizu jadi refleksi: ilmu tak pernah pensiun, peran akademisi terus hidup melalui gagasan, riset, dan pengabdian.

Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Pengukuhan Guru Besar UIN Saizu jadi refleksi: ilmu tak pernah pensiun, peran akademisi terus hidup melalui gagasan, riset, dan pengabdian. 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO- Suasana khidmat menyelimuti Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto dalam rangka Pengukuhan Empat Guru Besar di Auditorium Utama UIN Saizu Purwokerto, Selasa (14/4/2026).

Momentum ini tidak sekadar seremoni akademik, melainkan menghadirkan ruang refleksi mendalam tentang makna ilmu, perjalanan intelektual, dan peran seorang akademisi di fase kematangan.

Ketua Senat UIN Saizu, Prof. Abdul Wachid B.S., mengajak seluruh hadirin merenungi satu pertanyaan sederhana namun sarat makna: apakah ilmu memiliki usia pensiun?

Pengukuhan Guru Besar kerap dipahami sebagai puncak karier akademik.

Namun dalam refleksi yang disampaikan Ketua Senat, momen ini justru menjadi penanda kesetiaan panjang terhadap ilmu pengetahuan sebuah perjalanan yang tidak berhenti pada jabatan atau struktur formal.

“Pengukuhan bukan sekadar seremoni. Ia adalah penanda ketekunan merawat pertanyaan dan kesabaran membaca zaman,” ungkapnya.

Empat Guru Besar yang dikukuhkan, yakni Prof. Supani, Prof. Hariyanto, Prof. Achmad Siddiq, dan Prof. Nita Triana menjadi representasi dari perjalanan panjang tersebut.

Dalam perspektif yang lebih dalam, Prof. Abdul Wachid menegaskan bahwa yang sering kali berakhir hanyalah jabatan struktural, bukan peran keilmuan itu sendiri.

Ia membedakan antara “menjadi tua” dan “dituakan”.

Dalam tradisi akademik, Guru Besar adalah sosok yang dituakan dirujuk karena kedalaman ilmu, keluasan pengalaman, dan kejernihan pandangan.

“Ilmu tidak pensiun. Ia hanya menunggu untuk dihidupkan dalam ruang-ruang baru,” tegasnya.

Refleksi ini menjadi pengingat bahwa kontribusi akademik tidak dibatasi usia atau jabatan, melainkan terus bergerak melalui gagasan, bimbingan, dan karya ilmiah.

Dalam analogi yang puitis, Guru Besar diibaratkan sebagai akar yang menopang pohon besar.

Semakin tua, semakin dalam akarnya menguatkan sekaligus menghubungkan antara nilai-nilai lokal dan cakrawala global.

Di sisi lain, Guru Besar juga disebut sebagai “cahaya senja” tidak menyilaukan, namun menghadirkan kejernihan dalam melihat dunia.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved