UIN Walisongo Semarang
Wisudawan Terbaik UIN Walisongo 2026: Zakia, Mahasiswi Ilmu Falak yang Padukan AI dan Rukyatulhilal
Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin pesat, seorang mahasiswi Program Studi Ilmu Falak UIN
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
“Kalau jadwal akademik dan organisasi sama-sama padat, saya lebih memilih mengorbankan waktu istirahat daripada mengorbankan kualitas tugas,” ujarnya.
Menurut Zakia, anggapan bahwa organisasi menurunkan IPK lebih banyak disebabkan manajemen waktu yang belum tertata dengan baik.
“Organisasi justru mengajarkan banyak hal yang tidak ditemukan di ruang kelas, seperti kepemimpinan, manajemen konflik, dan kerja sama tim,” katanya.
Skripsi sebagai Ujian Keteguhan Niat
Meski terlihat tenang, Zakia mengakui fase penulisan skripsi menjadi tantangan terbesar selama kuliah. Ia harus mendalami dua bidang sekaligus: fikih dan kecerdasan buatan.
“Topik yang saya pilih berada di persimpangan dua bidang, sehingga saya dituntut membangun pemahaman di keduanya,” tuturnya.
Namun bagi Zakia, rasa lelah bukan tanda untuk menyerah. Ia memaknainya sebagai ujian keteguhan niat.
“Setiap kali merasa terbebani, saya selalu kembali pada keyakinan bahwa Allah tidak akan memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya,” katanya.
Dalam perjalanan akademiknya, Zakia mengaku banyak mendapat kekuatan dari para dosen dan masyayikh. Ia percaya keberhasilannya hari ini bukan semata hasil kemampuan pribadi, tetapi juga buah doa para guru dan kiai yang membersamai langkahnya.
Menuju Studi Astronomi
Zakia dibesarkan dalam keluarga yang agamis, berpendidikan, dan memberikan kebebasan penuh kepada anak-anaknya untuk menentukan masa depan sendiri. Lingkungan itu membentuknya menjadi pribadi yang mandiri sekaligus reflektif.
Jika bisa kembali ke masa mahasiswa baru, ia mengaku ingin lebih berani melangkah tanpa terlalu lama mempertimbangkan risiko.
“Tidak sedikit kesempatan berharga yang hampir terlewat hanya karena terlalu banyak menimbang hal-hal yang belum tentu terjadi,” ungkapnya.
Setelah lulus, Zakia berencana melanjutkan studi magister di bidang Astronomi. Ketertarikannya pada fenomena langit yang tumbuh selama belajar Ilmu Falak ingin ia dalami lebih jauh melalui pendekatan saintifik yang lebih mendalam.
Kepada mahasiswa UIN Walisongo Semarang, ia berpesan agar selalu memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan sekecil apa pun.
“Tidak ada usaha kecil yang sia-sia apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh,” pesannya.
Bagi Zakia, menjadi wisudawan terbaik bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar: terus belajar, menjaga akar keislaman, dan menghadirkan manfaat melalui ilmu pengetahuan.(***)
| Arisy Abror Dzukroni, Wisudawan Terbaik UIN Walisongo 2026, Bawa Riset Halal RI Mendunia |
|
|---|
| WCC UIN Walisongo Bekali Calon Wisudawan Hadapi Dunia Kerja dan Hidden Job Market |
|
|---|
| Suarakan Kesetaraan Gender Lewat Film, Santri ini Jadi Lulusan Terbaik KPI UIN Walisongo |
|
|---|
| Mita Putri Apriliani jadi Lulusan Terbaik BPI UIN Walisongo Lewat Riset Kearifan Lokal Papua |
|
|---|
| BAZNAS, Pemkab Tegal, dan UIN Walisongo sinergi berdayakan masyarakat lewat Balai Ternak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260526_uinws29288262589687.jpg)