Selasa, 26 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Arisy Abror Dzukroni, Wisudawan Terbaik UIN Walisongo 2026, Bawa Riset Halal RI Mendunia

Sosok tenang dan sederhana itu tak pernah benar-benar membayangkan dirinya berdiri sebagai wisudawan terbaik

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Arisy Abror Dzukroni, atau akrab disapa Abror, menjadi Wisudawan Terbaik Program Doktor pada prosesi Wisuda Periode Mei 2026 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Sabtu (23/5/2026), di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Sosok tenang dan sederhana itu tak pernah benar-benar membayangkan dirinya berdiri sebagai wisudawan terbaik.

Namun kerja panjang, konsistensi akademik, dan ketekunan dalam riset akhirnya mengantarkan Arisy Abror Dzukroni, atau akrab disapa Abror, menjadi Wisudawan Terbaik Program Doktor pada prosesi Wisuda Periode Mei 2026 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Sabtu (23/5/2026), di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub.

Mahasiswa Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo itu mengaku penghargaan tersebut bukan target yang sejak awal ia kejar.

Baginya, studi doktoral adalah perjalanan intelektual yang harus dijalani dengan kesungguhan dan konsistensi.

“Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik di setiap semester, mulai dari mengikuti perkuliahan dengan maksimal, publikasi artikel ilmiah di jurnal bereputasi, menghadiri konferensi internasional, hingga mengikuti summer school di luar negeri untuk memperkaya sudut pandang riset saya,” ujar Abror.

Menariknya, penghargaan kali ini terasa sangat personal bagi Abror.

Pada jenjang sarjana dan magister sebelumnya, ia selalu berada di posisi “nyaris terbaik”—menjadi wisudawan terbaik kedua dengan IPK yang sama persis dengan peringkat pertama, hanya kalah selisih masa studi beberapa hari.

“Menjadi terbaik kedua ternyata memberikan sedikit rasa kecewa,” katanya sambil tersenyum.

Karena itulah, saat memasuki jenjang doktoral, ia memilih untuk tidak lagi terlalu memikirkan gelar wisudawan terbaik.

Ia hanya fokus pada proses akademik dan memaksimalkan kesempatan langka menempuh pendidikan S3 dengan dukungan beasiswa.

“Penghargaan ini adalah bonus yang sangat saya syukuri,” ungkapnya.

Di balik capaian akademiknya, Abror dikenal sebagai peneliti muda yang serius menggarap isu halal di Indonesia dari perspektif yang tidak biasa.

Disertasinya membahas transformasi epistemologi halal di Indonesia selama empat dekade terakhir.

Ia menemukan adanya perubahan cara pandang masyarakat terhadap konsep halal: dari prinsip al-aṣlu fi al-asyyā’ al-ibāḥah (hukum asal segala sesuatu adalah halal) menjadi al-aṣlu fi al-asyyā’ laisa bi al-ibāḥah (hukum asal segala sesuatu tidak halal).

Temuan itu memantik perdebatan akademik, termasuk di ruang sidang ujian disertasinya sendiri.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved