Tribunjateng Hari ini
Jejak Gujarat Hidup dalam Semangkuk Bubur India di Masjid Pekojan
Masjid Jami Pekojan, Kota Semarang, memiliki sajian khusus untuk takjil setiap Ramadan, yakni bubur india.
Penulis: Achiar M Permana | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ahmad Paserin (55) duduk menghadap tungku besar, kacamata hitam sebagai pelindung dari asap.
Tangannya tak berhenti mengayun, sudip kayu menelusuri dasar dandang tembaga raksasa berisi bubur panas yang sedang di olah.
Uap putih mengepul, aroma rempah menyebar ke halaman Masjid Jami Pekojan, Jalan Petolongan Nomor 1, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Sabtu (21/2/2026).
Berjam-jam ia mengaduk, tanpa jeda, demi satu rasa yang sama dari tahun ke tahun, yakni bubur india khas Pekojan.
“Kalau berhenti, bawahnya bisa gosong. Nanti baunya sangit, harus manual ngaduknya biar merata,” kata Serin, sapaan akrabnya, saat ditemui Tribun Jateng, Sabtu.
Proses panjang itu sudah menjadi rutinitas Serin selama 12 tahun terakhir tiap Ramadan.
Serin bukan orang Pekojan asli.
Datang dari Bojonegoro, Jawa Timur, Serin awalnya menjadi marbot masjid.
Baca juga: Sajian Kambing Guling di Room Inc Kota Semarang saat Berbuka Puasa Menggugah Selera
Dari sanalah ia bertemu Ahmad Ali bin Ali Yasin, juru masak bubur india sebelumnya.
Ilmu dapur itu kemudian diwariskan.
“Ilmu ini sudah turun-temurun. Kami ini cuma meneruskan dari orang-orang tua dulu,” ujarnya.
Sejak Ahmad Ali bin Ali Yasin meninggal, beberapa tahun lalu, Serin dipercaya menjadi kepala juru masak bubur india.
Bubur india atau bubur pekojan bukan sekadar menu takjil. Ia dipercaya sebagai warisan para musafir dari Gujarat yang singgah dan menetap di Semarang sekitar abad ke-19.
Para pendatang itu kemudian bermukim dan berdagang di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Pekojan.
“Resepnya sudah dari awal. Sudah lama sekali. Mungkin sudah 100 tahun lebih,” ujar Serin.
| Telusur Wisata Sejarah Pekalongan, Pinot Ajak Menyelami Tinggalan Masa Lalu |
|
|---|
| Dua Hari Pascakcelakaan, Perjalanan Kereta Semarang-Jakarta Kembali Normal |
|
|---|
| Farida Jadi Korban Tabrakan KRL dan Argo Anggrek Sepulang dari Boyolali |
|
|---|
| Penahanan Fadia Arafiq Diperpanjang 30 Hari hingga 1 Juni |
|
|---|
| Tiga Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Tol Jatingaleh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tribun-Jateng-Hari-Ini-Minggu-22-Februari-2026.jpg)