Minggu, 17 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Pasar Johar Semarang: Dari Pohon Johar hingga Ikon Arsitektur Tropis Modern

Pasar Johar sejak lama menjadi denyut nadi perdagangan rakyat Semarang. Namanya diambil dari deretan pohon johar (Cassia siamea)

Tayang:
Penulis: budi susanto | Editor: muh radlis
IST
KERAMAIAN MASYARAKAT DI DEPAN PASAR JOHAR 1930. (Dokumen Leiden University Libraries, Digital Collections) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -  Pasar Johar sejak lama menjadi denyut nadi perdagangan rakyat Semarang. Namanya diambil dari deretan pohon johar (Cassia siamea) yang tumbuh di sekitar alun-alun Kauman pada abad ke-19, tempat awal kegiatan jual-beli berlangsung. 

Seiring pertumbuhan kota, kawasan alun-alun berubah menjadi pusat perdagangan permanen.

Sekitar tahun 1860-an, area lapang di sebelah barat Masjid Agung Kauman menjadi lokasi utama para pedagang. 

Lambat laun, kepadatan dan kebutuhan fasilitas yang lebih memadai mendorong pemerintah kolonial untuk membangun kompleks pasar baru. 

Pada 1930-an, rencana besar itu diwujudkan melalui pembangunan hall pasar modern yang kelak dikenal sebagai Pasar Johar.

Bangunan utama Pasar Johar dirancang oleh arsitek Belanda Herman Thomas Karsten (1884–1945), tokoh penting arsitektur dan perencanaan kota di Hindia Belanda. 

Karsten dikenal merancang dengan prinsip tropical modernism, arsitektur yang peka terhadap iklim tropis sekaligus tetap modern.

Dalam rancangan Pasar Johar, Karsten menghadirkan kolom jamur (mushroom columns) yang menopang atap besar, memungkinkan ruang dalam luas tanpa banyak dinding. 

Atap tinggi dengan ventilasi silang memudahkan cahaya dan udara masuk, membuat ruang tetap sejuk meski menampung ribuan pedagang. Prinsip ini menjadikan Johar bukan hanya ruang dagang, tetapi juga ruang sosial yang terbuka.

Hal tersebut juga dicatat dalam buku The Life and Work of Thomas Karsten (Architectura & Natura Press, 2017), Karsten memandang pasar sebagai elemen penting tata kota tropis, tempat interaksi sosial lintas etnis, pusat ekonomi rakyat, sekaligus ruang publik yang harus dirancang nyaman.

Bangunan baru Pasar Johar diresmikan pada 1939. Pada masanya, ia disebut sebagai salah satu pasar terbesar dan termodern di Asia Tenggara karena luas bangunan, kapasitas pedagang, dan kualitas rancangan yang melampaui pasar tradisional lain di Hindia Belanda.

Dengan hall pasar yang sangat luas, Johar menjadi simbol modernisasi kota Semarang yang kala itu sedang tumbuh sebagai pelabuhan penting di Jawa.

Keagungan arsitektur Johar diabadikan jelas dalam koleksi foto kolonial. Misalnya Tropenmuseum Amsterdam menyimpan seri foto berjudul De Pasar Djoha sekitar 1938 - 1942. 

Foto-foto tersebut menampilkan eksterior gedung pasar dengan kolom jamur khas serta aktivitas pedagang di dalamnya.

Tak hanya Tropenmuseum Amsterdam, Leiden University Libraries - Digital Collections juga memiliki foto dengan keterangan “Pasar Djohar te Semarang”, memperlihatkan bangunan pasar baru tak lama setelah selesai dibangun.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved