Kota Semarang
Silayur Berbahaya, Warga Protes: Pemkot Tak Mampu? Tunjangan DPRD Miliaran Rupiah!
Sebuah truk bermuatan pasir kembali mengalami gagal menanjak di Tanjakan Silayur, Ngaliyan..
Penulis: budi susanto | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sebuah truk bermuatan pasir kembali mengalami gagal menanjak di Tanjakan Silayur, Ngaliyan. Asap rem mengepul, suara klakson memecah sore, dan warga berlarian membantu sopir yang panik.
Pemandangan seperti ini bukan hal baru. Dalam dua tahun terakhir, kecelakaan di lokasi tersebut terus berulang.
Berdasarkan catatan warga, laporan grup lingkungan, dan unggahan masyarakat, setidaknya 16 kecelakaan terjadi di Silayur sepanjang 2024 hingga 2025.
Baca juga: Kajiannya Tembus Rp60 Miliar, Wali Kota Sebut Perbaikan Jalan Silayur Belum Masuk Prioritas
Baca juga: BREAKING NEWS: Truk Minyak Goreng Kemasan Terguling di Silayur Semarang, Lalu Lintas Tersendat
Pada 2024, terdapat sembilan kecelakaan yang mayoritas melibatkan truk bermuatan berat. Sementara pada 2025 hingga Desember, tercatat tujuh kecelakaan termasuk insiden rem blong yang viral karena menimpa kendaraan lain.
Hampir semua kejadian dipicu masalah serupa, truk tidak kuat menanjak, rem panas, lalu terguling atau mundur menghantam kendaraan lain.
Meski rambu larangan sudah dipasang, warga menilai penegakan aturan masih jauh dari tegas. Djohan, warga Ngaliyan, menyebut larangan itu hanya sebatas formalitas.
“Padahal sudah sering terjadi kecelakaan namun penanganan kurang. Ada larangan truk melintas juga hanya sekedar larangan tanpa penindakan. Buktinya masih banyak truk yang melanggar,” ujar Djohan kepada Tribun Jateng, Rabu (3/12/2025).
Menurutnya, tanpa penjagaan rutin dan sanksi nyata, truk akan tetap nekat melintas karena Silayur menjadi jalur cepat menuju kota.
Sementara itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng sebelumnya menyatakan bahwa solusi ideal untuk Silayur adalah melandaikan struktur jalan atau merekonstruksi elevasi.
Namun upaya tersebut disebut membutuhkan biaya besar yang tidak mampu ditanggung APBD Kota Semarang saat ini.
Pemerintah hanya melakukan penanganan alternatif seperti pemasangan rambu peringatan, larangan melintas, serta pengawasan terbatas dari petugas.
Pernyataan keterbatasan anggaran Pemkot ini kemudian memunculkan pertanyaan baru ketika dokumen anggaran DPRD Kota Semarang menunjukkan belanja yang tetap besar.
Anggaran belanja DPRD tahun berjalan menampilkan sejumlah pos pengeluaran yang jumlahnya stabil dan tidak mengalami pemangkasan.
Di antaranya belanja gaji dan tunjangan DPRD sebesar Rp 48,3 miliar, belanja representasi DPRD Rp 1,16 miliar, tunjangan keluarga, beras, jabatan, serta alat kelengkapan DPRD yang jika dijumlahkan mencapai puluhan miliar rupiah.
Belanja tunjangan kesejahteraan pimpinan dan anggota DPRD mencapai Rp 24,6 miliar, tunjangan perumahan Rp 24,48 miliar, dan tunjangan transportasi Rp 8,22 miliar.
| Penjelasan Dinas Kesehatan Soal Hantavirus di Kota Semarang |
|
|---|
| Respons Wali Kota Agustina Soal Tanah Gerak di Kalialang: Siapkan Pengungsian Sementara |
|
|---|
| "Melaut Malah Tekor" Nasib Nelayan di Pesisir Semarang saat Solar Langka dan Dexlite Mahal |
|
|---|
| 41 dari 130 Armada Diremajakan, BRT Trans Semarang Dikejar Tuntas September 2026 |
|
|---|
| Ada 174 SPPG Aktif di Kota Semarang, BGN Minta Pengawasan Ketat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251203_INFOGRAFIK-Rekam-jejak-kecelakaan-di-tanjakan-silayur.jpg)