Semarang
RIVIEW JUJUR! Naik Bajaj Keliling Semarang, Dari Tanjakan Gombel Hingga Kepadatan Jalan Protokol
Suara mesin khas terdengar di antara padatnya lalu lintas Kota Semarang. Sebuah bajaj, kendaraan roda tiga asal India.
Penulis: budi susanto | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suara mesin khas terdengar di antara padatnya lalu lintas Kota Semarang. Sebuah bajaj, kendaraan roda tiga asal India, melaju menyusuri jalanan kota. Bentuknya sederhana, namun kehadirannya selalu memancing perhatian dan rasa penasaran warga yang berpapasan.
Untuk menjawab rasa ingin tahu tersebut, Tribun Jateng secara eksklusif menjajal langsung sensasi menumpang bajaj di Semarang. Perjalanan dimulai dari kawasan Pedurungan, dengan Sugeng, warga Semarang, sebagai pengemudi. Ia telah tiga bulan terakhir menggeluti profesi sebagai driver bajaj online.
“Awalnya banyak yang heran, tapi sekarang sudah mulai terbiasa. Banyak juga yang penasaran ingin coba naik,” ujar Sugeng, Selasa (16/12/2025).
Baca juga: Tahun Ini Ada 272 Kasus HIV/AIDS Baru di Pati, 33 Orang Meninggal
Baca juga: Pemkot Semarang Siapkan Langkah Perkuat BUMD
Bajaj kemudian melaju menuju Jalan Fatmawati, berlanjut ke Jalan Tentara Pelajar, hingga menghadapi tanjakan di Jalan Dr Wahidin. Di jalur menanjak ini, mesin bajaj berteknologi empat tak terdengar meraung, bekerja lebih keras namun tetap stabil.
Meski menanjak, kendaraan roda tiga itu mampu melaju tanpa tersendat. Sugeng tampak tenang mengendalikan kemudi sambil sesekali memainkan transmisi.
“Kalau di tanjakan biasanya masuk gigi dua supaya tenaganya tetap ada,” katanya sambil tersenyum.
Ujian sesungguhnya terjadi saat bajaj diarahkan ke tanjakan Gombel, jalur yang dikenal cukup ekstrem di Kota Semarang. Dengan putaran mesin dijaga konstan, bajaj kembali menunjukkan kemampuannya menaklukkan medan.
“Masuk gigi dua, Mas,” ucap Sugeng singkat sebelum kendaraan menanjak.
Menurut Sugeng, performa bajaj cukup bisa diandalkan untuk penggunaan harian. Ia bahkan pernah membawa kendaraannya ke luar kota.
“Saya pernah ke Blora. Perjalanan sekitar tiga jam, habis bensin delapan liter,” tuturnya.
Kecepatan maksimal bajaj memang tidak dirancang untuk kebut-kebutan.
“Mentok sekitar 80 kilometer per jam. Tapi kalau soal muatan dan tenaga, masih cukup,” tambahnya.
Dari sisi penumpang, Tribun Jateng merasakan kabin yang cukup lega untuk dua orang dewasa. Jok terasa agak keras, namun suspensi yang mengayun cukup lembut membuat perjalanan tetap nyaman. Karena kabin bersifat semi terbuka dan tanpa pendingin udara, hawa panas kendaraan sekitar masih terasa saat terjebak kemacetan.
Meski demikian, secara keseluruhan bajaj tetap terasa praktis dan nyaman untuk mobilitas di tengah kepadatan kota.
Untuk mengetahui lebih jauh soal spesifikasi, Tribun Jateng menemui Fahmi, Head of After Sales Central Java Maxauto. Ia menjelaskan bahwa bajaj dirancang khusus untuk kebutuhan transportasi perkotaan dengan fokus pada efisiensi dan daya tahan.
| Cerita di Balik Tim 'Pemburu Mayat' Semarang: Pernah Kumpulkan Potongan Jenazah |
|
|---|
| Ratusan Hektar Tambak di Mangunharjo Terdampak Rob, Produksi Ikan Menurun |
|
|---|
| Pawai Ogoh-Ogoh Bakal Digelar di Semarang, Catat Tanggal dan Rutenya! |
|
|---|
| BRI Sisipkan Edukasi Literasi Keuangan saat Gelar Youth Champions League Semarang 2026 |
|
|---|
| Pemkot Semarang Tangani Anak Korban Pembakaran di Semarang Utara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/KABIN-BAJAJ-Pemandangan-dari-kabin-bajaj.jpg)