Tribun Jateng Hari Ini
Beragam Komentar Tanggapi Rencana Pembayaran Retribusi PKL Menggunakan QRIS
Tidak sedikit pedagang yang masih mengandalkan cara konvensional dan belum tersentuh teknologi, terutama untuk urusan pembayaran retribusi.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Vito
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rencana penerapan sistem pembayaran retribusi pedagang kaki lima (PKL) di Kota Semarang secara digital menggunakan QRIS pada tahun ini masih menuai beragam komentar di kalangan pelaku usaha.
Sebagian PKL mengaku sudah mulai terbiasa menggunakan sistem pembayaran digital seperti QRIS dalam transaksi jual beli.
Namun, tidak sedikit pula pedagang yang masih mengandalkan cara konvensional dan belum tersentuh teknologi, terutama untuk urusan pembayaran retribusi.
Satu di antaranya Dalyono (53), PKL yang berjualan di kawasan Peleburan, Kota Semarang. Ia mengaku kesulitan apabila rencana Pemkot Semarang menerapkan pembayaran retribusi PKL secara digital melalui sistem auto debit dan QRIS mulai 2026 benar-benar diberlakukan.
"Kemungkinan ya agak susah. (Inginnya-Red) langsung saja (konvensional-Red), ketemu orang yang biasa narik (retribusi-Red)," katanya, ditemui Tribun Jateng di lapaknya, baru-baru ini.
Selama ini Dalyono sudah terbiasa membayar retribusi secara langsung kepada petugas. Pun sampai hari ini, ia masih melakukan pembayaran secara langsung.
Menurutnya, penarikan retribusi dilakukan pada waktu yang berbeda tergantung jam berjualan. "Kalau jualan pagi dan malam ya bayar dua kali. Sekali buka Rp 7.000," ujarnya.
Dalyono menyebut, kendala utamanya terhadap sistem pembayaran digital adalah keterbatasan fasilitas. Ia mengaku tidak memiliki gawai, sehingga belum mendukung transaksi non-tunai. "Saya nggak punya HP. Kalau perlu apa-apa, minta bantu anak. Anak yang punya HP," ucapnya.
Meski demikian, ia mengaku tidak keberatan membayar retribusi selama caranya mudah dan sesuai dengan kondisi pedagang kecil seperti dirinya.
"Memang lebih baik kalau begitu (menggunakan QRIS-Red), cuma saya nggak punya HP. Harapannya ya langsung (bayar-Red) saja, yang penting saya bayar," tukasnya.
Sementara, meski belum sepenuhnya melek teknologi, pedagang mengaku siap mengikuti rencana penerapan pembayaran retribusi secara digital. Keterbatasan tersebut disiasati dengan bantuan anggota keluarga, terutama anak.
Sri Maryuni (53), penjual Pentol Kriwil, menyatakan, belum terbiasa menggunakan telepon genggam untuk transaksi digital.
Namun, menurutnya, hal itu dinilai tidak menjadi hambatan berarti, karena urusan pembayaran bisa dibantu oleh anaknya. "Enggak kesulitan, dibantu anak," tuturnya.
Ia menyebut, penggunaan QRIS sudah menjadi bagian dari aktivitas berdagangnya, meski bukan ia yang mengoperasikan secara langsung.
Pembayaran retribusi hingga biaya lapak selama ini juga diurus oleh anaknya. "Sudah biasa memanfaatkan QRIS. Bayar retribusi, lapak, semua anak. Kalau berapanya, saya enggak tahu," bebernya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260128-_-Aktivitas-Malam-PKL-Pleburan-Semarang.jpg)