Tribun Jateng Hari Ini
Beragam Komentar Tanggapi Rencana Pembayaran Retribusi PKL Menggunakan QRIS
Tidak sedikit pedagang yang masih mengandalkan cara konvensional dan belum tersentuh teknologi, terutama untuk urusan pembayaran retribusi.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Vito
Berkait dengan rencana penerapan retribusi PKL menggunakan QRIS, Sri Maryuni memilih bersikap mengikuti aturan yang berlaku.
Menurutnya, sebagai pedagang, yang terpenting adalah kelancaran mencari rezeki dan berharap lingkungan tetap tertib.
"Ngikutin aturan saja. Istilahnya pedagang kan nyari rezeki, semoga lancar, diberikan jalan yang baik aja gitu. Buat pemerintah, (harapannya-Red) bikin tentram lingkungan dan para pedagang, gitu aja," tandasnya.
Pedagang lain menilai, sistem pembayaran digital dapat membawa dampak positif bagi pengelolaan retribusi. Yanto (55), penjual tahu gimbal, mengaku, telah terbiasa menggunakan QRIS dalam transaksi sehari-hari.
"Saya pembayaran sudah menggunakan QRIS. Kalau (ada retribusi-Red) pakai QRIS enggak apa-apa, yang penting tertata rapi," ujarnya.
Menurutnya, penerapan pembayaran retribusi secara digital justru lebih baik, karena dinilai lebih transparan dan langsung masuk ke pengelolaan pemerintah. "Menurut saya lebih baik, karena langsung satu jurusan," tukasnya.
Adapun, Plt Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva menyebut, penerapan sistem non-tunai dilakukan untuk mencegah kebocoran pendapatan serta meningkatkan akurasi pencatatan retribusi.
Hal itu sebagai implementasi Perda No. 4/2025 secara penuh, termasuk penyesuaian tarif retribusi dari Rp 400 menjadi Rp 800 per meter persegi. (Idayatul Rohmah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260128-_-Aktivitas-Malam-PKL-Pleburan-Semarang.jpg)