Tribunjateng Hari ini
Ziarah ke Makam Pandanaran, Pendiri Kota Semarang di Bukit Mugas
Menyusuri sejarah kota Semarang tidak bisa lepas dari nama Ki Ageng Pandanaran I atau Sunan Pandanaran.
Penulis: Moh Anhar | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menyusuri sejarah kota Semarang tidak bisa lepas dari nama Ki Ageng Pandanaran I atau Sunan Pandanaran.
Ia merupakan tokoh agama yang dikenal sebagai pendiri kota Semarang atau orang yang "babat alas" di wilayah tersebut.
Jejak keberadaan Sunan Pandanaran masih bisa dijumpai sampai sekarang melalui makamnya di kompleks masjid Ki Ageng Pandanaran, Jalan Mugas Nomor 6, Kelurahan Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
Ketika TribunJateng.com menyambangi makam tersebut, Senin (23/02/2026) siang, kompleks makam itu tampak lengang. Langit Semarang saat itu mendung dan masih dalam suasana Ramadan.
Akses jalan menuju ke lokasi makam berada persis di samping masjid Ki Ageng Pandanaran.
Ketika langkah kaki memasuki kawasan makam itu, pengunjung bakal melewati dua gapura Jawa yang terdapat tulisan Jawa kuno.
Menurut penuturan juru kunci makam, gapura pertama bertuliskan: "Tumindak Suci Bakal Mukti" (Orang yang bertindak benar akan mencapai kemuliaan.
Gapura kedua, "Manunggaling Ngarsa Memuji Marang Gusti" (Manusia yang menyatukan kehendak adalah mereka yang selalu mengingat Tuhan).
Tulisan aksara Jawa juga tersemat di atas pintu masuk pendopo makam berupa Wediya marang diri sendiri (Takutlah jika menjadi orang yang tidak jujur, tidak bermoral, dan tidak baik bagi diri sendiri).
Sebelum masuk ke pintu pendopo, peziarah akan melawati jalan sepanjang kurang lebih 10 meter. Di sisi kanan kiri jalan itu terdapat tanaman pandan yang sangat lekat dengan penyebutan Sunan Pandansari.
Aroma pandan menyapa hidung sebagai tanda langkah kaki berada dekat dengan makam Sunan Pandansari yang berada di dalam area pendopo.
Di dalam pendapa terdapat berbagai papan informasi bertuliskan silsilah dari Sunan Pandanaran dan berbagai lukisan, mulai dari pengawal Sunan Pandanaran hingga tokoh-tokoh yang merawat makam tersebut. Di pendopo itulah para peziarah biasanya mengaji atau mengirimkan doa.
Di sudut ruangan pendopo, terdapat satu gentong peninggalan dari Sunan Pandanaran, yang dicat warna hijau.
Untuk lokasi makam Sunan Pandanaran berada di satu ruangan tertutup. Di dalam ruangan itu terdapat tiga makam, yakni Sunan Pandanaran, Pangeran Madiyo Pandan atau Maulana Ibu Abdul Salam yang merupakan ayahnya.
Satu makam lagi, yakni istri sunan Pandanaran, Nyi Ageng Sejanila atau Endang Sejanila.
| Rumah Tuhimah Kini Tak Bisa Ditempati Lagi Setelah Diterjang Banjir |
|
|---|
| Banjir Datang saat Warga Trimulyo Kerja Bakti Tambal Tanggul |
|
|---|
| Nurul Diduga Hanyut saat Bikin Konten Debit Air di Demak |
|
|---|
| Sri Senang Peroleh Tiga Ketupat dan Satu Lepet Hasil Rebutan |
|
|---|
| Merapat di Pelabuhan Jepara, Tujuh Nakes Layani Pengobatan Gratis Kapal Laksamana Malahayati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tribun-Jateng-Hari-Ini-Kamis-26-Februari-2026.jpg)